Laurencia sama sekali tak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. dia berpikir keras di tengah kekalutan yang mendera dirinya. Marah, khawatir, takut, sedih dan bingung bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana mungkin apa yang dia lakukan selama ini akan berakhir sia-sia. Lorenzo tidak ingin menjadi kucing kembali dengan alasan kenyamanan, kesenangan dan kemudahan. Dia benar-benar harus memutar otaknya untuk membujuk Lorenzo.
Waktu menunjukkan pukul 11.50 malam. Laurencia teringat bahwa dari tubuh Lorenzo akan keluar ekor panjang yang bersinar setiap tengah malam. Mungkin ini semua ada kaitannya. Dengan perasaan was-was, takut sekaligus penasaran, laurencia menunggu dengan sabar keluarnya ekor itu. 10 menit entah kenapa serasa seperti satu jam baginya. Ketika ekor itu muncul, Laurencia segera melompat sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Meleset. Ekor itu bergerak dengan cepat dan justru menampik serangan Laurencia dari arah samping dengan keras. Laurencia terjungkal menatap tembok.
"Kau Lancang!!!" bentak Lorenzo marah. Lorenzo telah tepat berada di hadapan laurencia yang terbaring di lantai. Sorot mata Lorenzo tak seperti biasa. Dia memandang Laurencia dengan sorot mata yang tajam.
"Kembalikan tubuhku," rintih Laurencia sambil mencoba untuk berdiri meskipun tertatih.
"Tidak!!!" bentak Lorenzo.
"Kenapa kau lakukan ini padaku,"
"Itu karena kau sering memperlakukan kucing dengan tidak semestinya. Kau memukul, menendang, dan bahkan kau pernah ingin membunuhku dengan menjatuhkanku dari atas jembatan penyebrangan. Aku ingin kau merasakan apa yang kucing-kucing malang itu rasakan." Laurencia mengangkat tubuh Laurencia dengan ekornya dan melemparkannya keluar jendela. Terdengar suara pecahan kaca. Laurencia terjatuh di halaman depan rumah. Lorenzo melompat turun dari lantai 2.
![]() |
| google image |
Mereka berdua berhadapan. Entah kenapa Laurencia merasa bahwa ekor tersebut bisa mengembalikannya menjadi manusia. Laurencia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan 5 menit yang berharga ini. Walau selalu gagal dan terbanting berkali-kali. Laurencia tak menyerah.
"Matilah kau!" Lorenzo menyeringai, ekornya mencekik leher Laurencia. Laurencia tank ingin mati konyol. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa, dia mencengkeram ekor Lorenzo dengan cakar dari kedua kaki depannya. Laurencia mencengkeram sekuat tenaga hingga ekor itu mengeluarkan darah segar. Cekikan melemah beriringan dengan suara pekikan kesakitan dari Lorenzo. Lorenzo menghantamkan ekornya ke tanah beberapa kali agar terlepas dari cengkeraman Laurencia. Namun cengekeraman itu tak melemah sedikitpun. Laurencia bahkan menggigit ekor tersebut hingga terputus.
Terdengar suara teriakan dari Lorenzo. Lalu semua terlihat gelap.
Bersambung,,,,
Ditulis oleh: Mia Insani
