Hari ke-30 tiba. Saatnya pengumuman hasil jerih payah Laurencia belajar di sekolah perkucingan. Laurencia terpilih menjadi lulusan terbaik. Bukan main senangnya dia. Walaupun kucing lain tak ada yang memberi selamat, Laurencia tetap berbahagia karena tak lama lagi dia akan terbebas dari kutukan ini. Dia bersenandung gembira sepanjang hari. Pukul 8 malam, Laurencia melapokan hal membahagiakan ini kepada Lorenzo. Ya. dia pulang terlambat hari itu.
"Jadi, sekaranglah saatnya kau mengembalikanku sebagai manusia, bukankah aku sudah menepati janji yang telah kita sepakati." tagih Laurencia kepada Lorenzo.
"Kenapa harus? Aku nyaman menjadi Laurencia. Kehidupan menjadi manusia sungguh menyenangkan dan mudah. Lagi pula, bukankah kau sudah terbiasa menjalani kehidupan sebagai seekor kucing?" Pernyataan yang dilontarkan Lorenzo membuat alurencia tercengang.
"Apa maksudmu berkata seperti itu!? Kembalikan tubuhku sekarang juga!!!" tukas Lurencia tegas dan geram.
"Aku tidak mau," jawab Lorenzo santai di kursi belajar sambil menyandarkan kepala di kedua tangannya yang terpaut.
![]() |
| google image |
"APA!!!???" Larencia tak habis pikir.
"Haaaaaaaaaa..." aku malas bicara denganmu. Aku mau tidur saja. sebaiknya kau juga tidur kucing jelek," Lorenzo membanting tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. Laurencia yang kebingungan memohon-mohon pada LOrenzo yang sedang santai berbaring. Air matanya deras mengalir. Dia merasa sangat sedih, bingung dan ketakutan jika Lorenzo benar-benar tidak mau mengembalikannya menjadi manusia. Dia tidak ingin terjebak dalam tubuh kucing selamanya. Laurencia pun mencakar lengan kanan Lorenzo sebagai bentuk protes terhadapnya.
"Kucing kurang ajar!!! berani sekali kau mencakarku." katanya sambil menghempaskan tangan dan memebuat Lurencia terbanting.
"Tapi tak apa,,, lagi pula kau hanyalah kucing kecil yang lemah." Lorenzo mengelus bekas cakaran Laurencia. Luka itu seketika menghilang tak berbekas.
"Sebagai balasannya, kau akan selamanya menjadi kucing." Lorenzo pun menarik selimut dan tertidur. Laurencia hanya bisa tertegun dan merasa tak ada harapan lagi baginya.
Bersambung,,,,,,
Ditulis oleh: Mia Insani
