Mau tak mau, setiap pagi Laurencia harus mengikuti kelas perkucingan di gorong-gorong yang gelap. bau dan becek. apa yang diajarkan di sana benar-benar tidak masuk akal baginya. mulai dari cara membersihkan diri dengan menjilati seluruh bagian tubuh, buang air sembarangan sebagai penanda wilayah kekuasaan, cara mencuri makanan, mencari makan di tong sampah, guna ekor kucing sebagai alat keseimbangan, kuna kumis sebagai penanda apakah tubuh kita cukup untuk bisa masuk ke dalam tempat-tempat sempit atau tidak, guna cakar kucing sebagai alat kita memanjat, bertarung dan menangkap mangsa dan pelajaran yang menurut Laurencia adalah hal yang paling bodoh adalah bagaimana mencari pasangan. satu hal lagi, di sekolah perkucingan, Laurencia sama sekali tidak memiliki teman.
Tidak hanya itu saja, Laurencia harus melaporkan apa saja yang telah dia pelajari di kelas perkucingan kepada Lorenzo di kamar Laurencia atau lebih tepatnya menjadi kamar Lorenzo sekarang. Ibu laurencia sama sekali tak menyadari jika ada kucing di dalam kamar Laurencia. Ya, Lorenzo selalu membawa Laurencia dari jembatan penyebrangan setiap pulang sekolah dengan memasukkannya ke dalam tas. Selain itu, Laurencia juga harus mengerjakan PR yang Lorenzo dapatkan dari sekolah setelah dia melaporkan kegiatannya di sekolah perkucingan kepada Lorenzo. Setelah itu, Laurencia akan tetap tinggal di kamar dan tidur di bawah kolong kasurnya. Hal ini sudah berlangsung selama 25 hari. Laurencia terpaksa harus menjalani penderitaan ini demi bisa kembali ke wujud manusianya.
![]() |
| https://felids.files.wordpress.com/2012/10/deannas-panther-adj.jpg |
Keesokan paginya, Laurencia tak mengatakan apa pun tentang kejadian itu kepada Lorenzo. Laurencia selalu terjaga saat tengah malam selama tiga hari. Ia hanya mulai paham bahwa ekor tersebut hanya muncul saat tengah malam selama 5 menit, namun ia tidak tahu apa kegunaan ekor yang bersinar tersebut. Ia hanya menyimpan tanda tanya besar untuk dirinya sendiri. Ia tidak terlalu peduli.
Bersambung,,,,
Ditulis oleh: Mia Insani
