Thursday, May 17, 2018

Legenda Asal Muasal Coban Rondo



Fyi: Cerita ini adalah cerita  yang dulu pernah ane kirim buat Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Cerita Rakyat. Cerita ini tidak 100% benar ya,,, pasti ada sedikit tambahan MSG di dalamnya hehehe,,, tapi cerita ini dibuat berdasarkan legenda yang sudah ada....




            Alkisah hiduplah seorang gadis keturunan bangsawan yang terhormat dari daerah Gunung Kawi. Bangsawan tersebut memiliki seorang putri yang bernama Dewi Anjarwati. Ia adalah seorang wanita berparas cantik, berbudi luhur dan santun.
            Kini Dewi Anjarwati sudah beranjak dewasa. Kedua orang tua Dewi Anjarwati menganggap sudah saatnya untuk menikahkan anak gadis satu-satunya tersebut. Mereka sudah lama merencanakan perjodohan anak gadisnya dengan anak lelaki dari seorang sahabat sesama bangsawan dari daerah Gunung Anjasmoro yang bernama Raden Baron Kusumo. Namun, mereka masih ragu, apakah nantinya Dewi Anjarwati akan menerima perjodohan ini.
            Keesokan harinya, datanglah seorang kurir suruhan bangsawan Gunung Anjasmoro yang mengantarkan sebuah surat. Surat itu menyatakan bahwa ia ingin memperjelas rencana perjodohan putra dan putri mereka serta menjelaskan bahwa Raden Baron Kusuma setuju dengan rencana perjodohan yang dulu pernah mereka sepakati bersama. Kemudian, ayahanda dan ibunda Dewi Anjarwati pun segera menemui anak gadisnya yang sedang asik merangkai bunga di taman bunnga belakang rumah.
“Anakku, Adinda Dewi Anjarwati,” kata ayahandanya.
“Salam, Ayahanda, Ibunda,” jawab Dewi Anjarwati sambil menundukkan kepala dan menghentikan kegiatannya sejenak. “Ada apa gerangan Ayahanda dan Ibunda datang kemari?”
“Anakku, kini kau sudah beranjak dewasa, nak. Ayahanda dan Ibundamu berpikir, sudah saatnya bagimu untuk menikah,”
“Ayahanda dan Ibunda, Adinda akan mematuhi semua yang Ayahanda dan Ibunda katakan selagi itu adalah keputusan yang terbaik bagi Andinda. Tapi, siapakah gerangan yang mau menikah denganku?”
“Kau tidak perlu cemas anakku,” ibunda Dewi Anjarwati mendekat dan membelai lembut kepala putrinya. “Ayahandamu memiliki seorang sahabat bangsawan dari dearah Gunung Anjasmoro. Ia memiliki anak lelaki yang gagah dan tampan. Ayahandamu akan menjodohkanmu dengannya,” kata ibundanya sambil tersenyum.
 “Kau pernah bertemu dengannya saat usiamu 10 tahun, anakku. Saat sahabat Ayah yang berasal dari Gunung Anjasmoro dan keluarganya berkunjung ke kediaman kita” tambah ayahandanya.
“Benarkah itu?” tanya Dewi Anjarwati.
“Ya, anakku. Kau pernah bermain dengannya selama beberapa hari. Kau mungkin masih mengingat anak lelaki itu. Raden Baron Kusuma,” ibundanya menambahi. “Saat itu, kami sepakat untuk menjodohkan kalian berdua jika kalian sudah dewasa,”
Terbersit sesosok anak lelaki yang dulu pernah bermain bersamanya di taman bunga belakang rumahnya. Ia seorang yang ramah dan menyenangkan, “Ya, aku masih ingat walau hanya samar-samar, Ibunda. Aku setuju dengan perjodohan ini Ayahanda, Ibunda,” kata Dewi Anjarwati yang dengan gembira menerima perjodohan ini.
“Benarkah? Ini berita yang sangat menggembirakan.” Ayahanda dan Ibunda Dewi Anjarwati serta Dewi Anjarwati sendiri terlihat bahagia.
Ayahnda Dewi Anjarwati pun segera menuliskan surat balasan akan diterimanya perjodohan antara Raden Baron Kusumo dengan Dewi Anjarwati. Ia segera mengutus kurir untuk mengantarkan surat tersebut kepada sahabatnya itu, Bangsawan Gunung Anjasmoro.
JJJ
            Satu minggu berselang, seorang kurir suruhan Bangsawan Gunung Anjasmoro datang dan mengantarkan surat balasan yang menyatakan bahwa ia sangat senang akan kabar ini. Ia beserta kerabatnya termasuk Raden Baron Kusumo akan datang ke Gunung Kawi untuk meminang Dewi Anjarwati. Kemungkinan mereka akan sampai sekitar 10 hari lagi dengan membawa banyak persembahan untuk Dewi Anjarwati.
            Mengetahui hal itu, Ayahanda Dewi Anjarwati segera memerintahkan para abdi dalem untuk menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk acara pesta pernikahan Dewi Anjarwati 10 hari ke depan. Pesta tersebut akan menjadi pesta pernikahan termegah dan semua rakyat Gunung Kawi diundang untuk menghadirinya.
JJJ
            Tiga hari menjelang pesta pernikahan, rombongan keluarga bangsawan Gunung Anjasmoro telah tiba lebih cepat dari yang telah diperkirakan. Mereka membawa banyak sekali sesembahan hasil bumi buah-buahan dan umbi-umbiaan, perhiasan emas, dan kain sutra. Mereka juga disambut dan dijamu dengan hangat. Namun tak terlihat sosok Dewi Anjarwati ikut menyambut mereka.
            Saat perjamuan makan berlangsung antar kedua keluarga bangsawan tersebut, Raden Baron Kusumo merasa gugup dan sedikit tak berselera makan. Ia juga hanya menundukkan kepala sembari ikut tersenyum tipis saat kedua keluarga tersebut sedang berguarau. Ia berharap-harap cemas ingin segera bertemu dengan Dewi Anjarwati. Ia takut jika Dewi Anjarwati tiba-tiba berubah pikiran. Tapi pikiran itu segera ditepisnya.
“Kemana gerangan putrimu yang cantik Dewi Anjarwati, wahai sahabatku? Aku rasa anakku Raden Baron Kusumo tak sabar ingin segera bertemu dengannya sebelum acara pernikahan berlangsung,” tanya Ayahanda Raden Baron Kusumo yang sepertinya tahu akan apa yang sedang dipikirkan oleh putra kesayangannya itu.
            “Maaf, wahai sahabatku. Sepertinya putriku belum selesai berbenah dan bersolek. Tunggulah sebentar lagi, Raden Baron Kusumo.” Jawab Ayahanda Dewi Anjarwati sambil tersenyum.
            Ayahanda Raden Baron Kusumo tertawa. “Tidak apa-apa, wahai sahabtaku. Aku sangat mengerti. Wanita pasti ingin tampil sempurna dihadapan calon suaminya,”
            Sementara di kamar Dewi Anjarwati, Dewi Anjarwati yang telah selesai berbenah dan bersolek telah bersiap untuk pergi ke perjamuan makan. Dewi Anjarwati juga merasakan hal yang sama. Bagaimana jika Raden Baron Kusumo tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan ini saat mereka berdua bertemu. Bagaimana jika ia salah bertingkah dan membuat calon suaminya tidak ingin menikahinya. Ia sangat gugup dan kalut namun juga tak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya itu. Ia berjalan bolak nalik di kamarnya sambil berkali-kali menghela napas panjang. Ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
            “Salam, Ayahanda dan Ibunda,” Dewi Anjarwati memberi salam kepada kedua orang tuanya sesampainya ia di ruang perjamuan makan.
            “Salam, anakku. Beri salam juga kepada keluarga Bangsawan Gunung Anjasmoro dan calon suamimu,” jawab Ayahanda Dewi Anjarwati.
            “Salam hormat dariku untuk keluarga bangsawan Gunung Anjasmoro,” Dewi Anjarwati menyampaikan salamnya.
            “Salam,” seluruh keluarga Bangsawan Gunung Anjasmoro menjawab salam Dewi Anjarwati. Kemudian, Dewi Anjarwati segera duduk di samping ibundanya. Dewi Anjarwati merasa sangat canggung, bahagia, cemas, dan takut.
            “Apa kau melihat pemuda yang duduk di sebelah kanan sahabat ayah itu, anakku?” tanya ayahanda Dewi Anjarwati.
            “Iya, Ayahanda,” jawab Dewi Anjarwati.
            “Dialah calon suamimu, Raden Baron Kusuma,” ujarnya lagi.
            Dewi Anjarwati dan Raden Kusuma saling bertatapan. Mereka saling terpesona. Tergambar guratan senyum bahagia dari keduanya. Wajah mereka memerah. Malu, bahagia, canggung, takut dan jantung mereka berpacu sangat cepat.
            “Pernikahan kalian akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang. Dan persiapan untuk pesta pernikahan kalian sudah hampir selesai.” Ayahanda Dewi Anjarwati mengumumkan.
            Semua yang hadir dalam perjamuan makan sangat antusias dengan pernikahan Raden Baron Kusumo dan Dewi Anjarwati. Begitu pula dengan dua insan yang sedang kasmaran yang tiga hari lagi akan resmi menjadi sepasang suami dan istri.  
JJJ
            Tiga hari berselang. Hari pernikahan Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo pun tiba. Para abdi dalem tengah sibuk mempersiapkan sajian makanan untuk para tamu, menghiasi seluruh bagian rumah dengan berbagai macam bunga segar dan janur kuning. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan hari bahagia ini. Begitupun dengan Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang sedari pagi buta tengah mempersiapkan diri menuju pelaminan. Semua rakyat Gunung Kawi diundang dalam pesta akbar tersebut. Tak terkecuali para pejabat lain dari daerah  Gunung Kawi dan Gunung Anjasmoro.
            Saat Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo dipertemukan  sebagai sepasang pengantin. Raut wajah kedua mempelai tampak sangat cerah dan bahagia yang disertai dengan rasa gugup dan canggung. Kemudian, mereka berdua berjalan ke arah halaman rumah untuk menjalani prosesi sungkeman terhadap Kedua orang tua Dewi Anjarwati dan Baron Kusumo yang sedang menunggu di kuade yang telah disiapkan sebagai tanda bahwa mereka berdua meminta restu untuk membina rumah tangga begitupun sebaliknya, kedua orang tua mempelai memberikan restu kepada mereka. Hal itu dilakukan di hadapan semua orang yang hadir dalam pesta perikahan.
             Suasana pernikahan akbar antara Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo begitu penuh suka cita. Banyak kalangan pejabat mau pun rakyat jelata yang datang untuk memeriahkan pernikahan kedua mempelai tersebut. Mereka mendoakan agar pernikahan antara Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo senantiasa damai dan sejahtera serta dikaruniai anak-anak yang pandai dan berbakti kepada orang tua. Pesta pernikahan pun digelar semalam suntuk yang dimeriahkan oleh tari-tarian tradisional dan alunan musik yang mengiringi tembang-tembang jawa yang dinyanyikan oleh para sinden.
JJJ
            Selang tiga hari sejak diresmikannya pernikahan antara Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo. Kedua orang tua dan keluarga Raden Baron Kusumo pun berpamitan untuk kembali ke Gunung Anjamara. Hanya  Raden Baron Kusumo saja yang tetap tinggal di Gunung Kawi.
JJJ
            Tiga puluh hari berlalu sejak pernikahan tersebut. Hari-hari dilalui berjalan seperti biasa, hanya perbedaan kecil yang terjadi. Raden Baron Kusumo kini membantu ayahanda mertuanya untuk menjalankan tugas politik di daerah Gunung Kawi. Hingga pada suatu pagi Dewi Anjarwati megutarakan niat untuk mengunjungi kampung halaman suaminya di Gunung Anjasmoro kepada Raden Baron Kusumo.
            “Kanda, tidakkah sebaiknya kita berkunjung ke Gunung Anjasmoro? Aku ingin sekali berkunjung ke tanah kelahiran Kanda. Aku juga ingin bertemu dengan ayahanda dan ibunda mertua di sana. Aku rindu kepada mereka, tidakkah kau juga merindukan mereka?” tanya Dewi Anjarwati.
            “Kau benar, Dinda. Aku juga merindukan mereka. Aku rasa pergi berkunjung ke kampung halamanku bukanlah ide yang buruk, tapi alangkah baiknya jika kita juga meminta izin kepada Ayahanda dan Ibundamu, Dinda”
            JJJ
            Keesokan harinya, mereka berdua pun memberitahu perihal niatan mereka berdua untuk berkunjung ke tanah kelahiran Raden Baron Kusumo di Gunung Anjasmoro kepada ayahanda dan ibunda Dewi Anjarwati.
            “Tidak, anakku. Usia pernikahan kalian masih menginjak usia tiga puluh enam hari. Janganlah kalian bepergian jauh. Jarak antara Gunung Anjasmoro dan Gunung Kawi sangatlah jauh. Butuh waktu beberapa hari untuk bisa sampai ke sana, Ibunda khawatir akan terjadi hal buruk yang akan menimpa kalian jika kalian pergi.” kata ibunda Dewi Anjrwati khawatir.
            “Tapi, Ibunda, Dinda kira tidak ada salahnya jika Dinda dan Kakanda pergi ke Gunung Arjuna untuk mengunjungi sanak saudara yang ada di sana,” ujar Dewi Anjarwati.
            “Benar, Ibunda. Menantumu ini akan mempersiapkan  perbekalan apa saja yang diperlukan untuk perjalanan kami agar apa yang Ibunda khawatirkan tidak akan terjadi. Lagi pula, menantumu ini sudah menempuh jarak sejauh itu untuk bisa meminang putri kesayangan Ibunda,” Raden Baron Kusumo menambahkan.
            “Tapi anakku, Ibunda tetap khawatir. Ibunda tidak ingin kejadian buruk menimpa kalian di perjalanan nanti,”
            “Sudahlah. Tidak apa-apa, istriku. Aku yakin mereka bisa menjaga diri dan akan baik-baik saja. Asalkan perjalanan ini benar-benar dipersiapkan dengan matang. Apa lagi, menantu kita sudah pernah menempuh jarak yang jauh untuk bisa meminang putri kita tercinta. Izinkanlah mereka pergi,” bujuk Ayahanda Dewi Anjarwati.
            “Tapi... perasaanku tidak enak mengenai rencana ini,” ibunda Dewi Anjarwati tetap bersikukuh. Namun pada akhirnya ibunda Dewi Anjarwati pun setuju dengan keputusan ini setelah terjadi perdebatan yang cukup alot walaupun dalam hatinya ia tetap bersikukuh untuk tidak mengizinkan putri dan menantunya pergi.
 “Baiklah jika kalian memaksa. Pastikan kalian benar-benar mempersiapkan perbekalan apa saja yang dibutuhkan untuk kalian. Jangan lupa bawa juga beberapa prajurit untuk mendampingi kalian,” raut wajah Ibunda Dewi Anjarwati terlihat sangat khawatir dan sedih namun dia terpaksa mengizinkan mereka pergi.
JJJ
            Lima hari berselang, yang berarti hari ke tiga puluh enam pernikahan (selapan) antara Dewi Anjarwati dan Baron Kusumo. Pada hari itu, segala persiapan yang dibutuhkan dalam perjalanan telah dipersiapkan. Mulai dari persediaan makanan, minuman, beberapa tanaman obat, dua kereta kuda yang masing-masing diapkai untuk tempat penyimpanan bekal dan yang satu untuk tempat istirahat Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo, 15 prajurit laki-laki bersenjatakan keris dan tombak, serta 4 abdi dalem wanita.
            “Hati-hati anakku. Ibunda di sini akan selalu mendoakan keselamatan kalian. Ibunda benar-benar sangat khawatir. Tidak bisakah kalian berubah pikiran untuk tidak pergi?” bujuk ibunda Dewi Anjarwati sambil memeluk Dewi Anjarwati.
            “Jangan khawatir, Ibunda. Kami akan baik-baik saja, doakan kami, Ibunda, Ayahanda,” kata Raden Baron Kusumo.
            “Jaga baik-baik putriku,” ujar ayahnda Dewi Anjarwati.
            “Tentu saja, Ayahanda. Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan menjaganya apa pun risikonya,” jawab Raden Baron Kusumo.
            “Kami pergi dulu, Ayahanda, Ibunda,” pamit Dewi Anjarwati sambil melepaskan pelukan ibundanya. Ibunda Dewi Anjarwati merasa hatinya enggan melepas kepergian anak dan menantu kesayangannya tersebut. Tapi apa daya jika mereka tetap bersikukuh untuk pergi. Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo pergi dengan menaiki kereta kuda. Sedang para abdi dalem dan pengawalnya berjalan berbaris mengiringi perjalanan mereka.  
            JJJ
            Selang tiga hari perjalanan, sampailah rombongan tersebut di daerah pujon. Saat tengah melintasi daerah pujon matahari cukup terik berada di ubun-ubun, Dewi Anjarwati merasa haus dan ternyata persediaan air minum sudah habis. Dewi Anjarwati pun meminta suaminya untuk mencarikan air. Lalu, Raden Baron Kusumo pun berangkat mencari air dengan ditemani oleh empat pengawal sambil membawa dua gentong penyimpanan air.
            Sekitar satu jam, Raden Baron Kusumo dan empat pengawalnya mencari sumber mata air. Kemudian Raden Baron Kusumo pun mendengar suara gemericik air. Ia lalu menulusuri kemana suara air tersebut. Suara tersebut semakin deras hingga pada akhirnya Raden Baron Kusumo pun menemukan sebuah coban (air terjun) dengan batu besar di bawahnya.
            “Isi gentong kita dengan air sampai penuh, lalu kembalilah kalian ke tempat istriku beristirahat,” suruh Raden Baron Kusumo kepada keempat pengawalnya yang langsung melakukan apa yang diperintahkannya. “Aku akan berada di coban ini sebentar membasuh tubuhku,” tambah Raden Baron Kusumo. Ia terpikat akan kejernihan air, suasana damai dan senandung kicauan burung-burng yang bernyanyi merdu di coban tersebut.
JJJ
            Sementara itu setelah satu jam kepergian Raden Baron Kusumo, tiba-tiba datanglah seorang pemuda gagah berwajah garang menaiki kuda hitam tengah melintas dan menghampiri tempat peristirahatan Dewi Anjarwati. Pemuda tersebut memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang bernama Joko Lelono Sang Pendekar Sakti kepada Dewi Anjarwati.
            Pada awalnya Dewi Anjarwati bersikap baik pada Joko Lelono atas kesopanannya menyapa Dewi Anjarwati dan mengajaknya berbincang-bincang. Namun lambat laun Joko Lelono mulai bersikap kurang ajar dengan merayus Dewi Anjarwati sehingga membuat Dewi Anjarwati geram.
            “Ikutlah berkuda dan berkelana bersamaku, wahai wanita jelita. Tinggalkan saja suami dan pengawalmu ini. Ikutlah bersamaku berkelana. Engkau akan kujanjikan bahagia bila hidup bersamaku dan menikah denganku,” rayu Joko Lelono.
            “Jaga perkataanmu kisanak, aku tidak akan pergi dari sini sampai suamiku kembali.” Ujar Dewi Anjarwati marah. Joko Lelono tetap saja tak beranjak dari sisi samping kereta kuda Dewi Anjarwati dan tetap merayunya.
            “Pergilah Kisanak, aku tidak akan pergi denganmu. Aku sudah bersuami dan aku akan menunggunya di sini sampai dia datang. Jika tidak, aku akan menyuruh pengawal ku untuk menyingkirkanmu dari sini,” ancam Dewi Anjarwati.
            Dua jam berselang saat Raden Baron Kusumo kembali ke tempat Dewi Anjarwati berada. Di kejauhan ia mendengar suara Dewi Anjarwati yang berteriak. Raden Baron Kusumo lalu bergegas. Sesampainya di sana, ia terkejut melihat para pengawal sudah terkapar, sedangkan para abdi dalem wanita dan satu pengawal yang tadi menemaninya mengambil air tengah berusaha menarik lengan Dewi Anjarwati ke sisi kanan sedang sisi kiri sedangkan seorang lelaki asing sedang menarik lengan kanan isterinya.
            “BERHENTI!!!” Teriak Raden Baron Kusumo dengan lantang.
            “SUAMIKU!!!” Teriak Dewi Anjarwati. mengetahui hal ini, Joko Lelono segera melepaskan lengan Dewi Anjarwati. Dewi Anjarwati dan para abdi dalem wanita pun segera berlari ke arah Raden Baron Kusumo.
            “Berani-beraninya kau menyentuh isteriku,” ujar Raden Baron Kusumo
            “Wanita cantik itu tidak akan menjadi isterimu lagi jika ia pergi bersamaku,” jawab Joko Lelono.
            “Tidak akan aku biarkan kau bersikap kurang ajar terhadap isteriku,” bentak raden Baron Kusumo.
            “Jadi kau menantangku! Lebih baik aku habisi kau segera,” tantang Joko Lelono.
            “Aku tidak takut padamu,” jawab Raden Baron Kusumo tegas.
            “Pengawal, cepat bawa Dewi Anjarwati berlindung di coban yang kita temukan tadi. Aku akan segera menyusul setelah urusanku selesai” Perintah Raden Baron Kusumo.
            “Baik, Raden,” jawab pengawal tersebut patuh. Pengawal itu pun segera menuntun para abdi dalem dan Dewi Anjarwati pergi meninggalkan Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono bertarung.
            “Aku akan menunggumu menjemputku suamiku, kembalilah dengan selamat,” teriak Dewi Anjarwati kepada suaminya sambil memalingkan kepalanya ke belakang.
            “Aku berjanji akan menjemputmu, istriku,” jawab Raden Baron Kusumo lantang.
JJJ
            Setelah satu jam berlari melewati hutan, sampailah mereka di coban itu. Dewi Anjarawati, pengawal dan para abdi dalem sangat kelelahan. Mereka segera meminum air yang jernih dan segar di coban itu. Mereka pun menunggu kedatangan Raden Baron Kusumo di sana dengan cemas.
            Lama mereka menunggu kedatangan Raden Baron Kusumo hingga sang surya tak lagi  menampakkan batang hidungnya. Dewi Anjarwati sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan suaminya. Terbersit juga pikiran andai ia mendengar perkataan ibundanya untuk tidak pergi. Namun, segera ditepisnya pikiran itu karena Dewi Anjarwati masih berharap akan keselamatan Raden Baron Kusumo.
            “Pengawal, suamiku belum juga kemari untuk menejmput kita, bagaimana jika kita kembali ke tempat suamiku berada, aku khawatir sekali,” ujar Dewi Anjarwati.
            “Mohon Maaf, Kanjeng Dewi Anjarwati. Hari telah gelap, sebaiknya kita tetap menunggu Raden Baron Kusumo datang kemari. Sangat berbahaya jika kita berjalan kembali ke hutan pada malam hari, ada banyak binatang buas dan juga  kemungkinan kita akan tersesat sangatlah besar, Kanjeng,” jawab pengawal.
            “Benar, apa kata pengawal, Kenajeng. Sebaiknya kita menunggu di sini. Ini semua juga demi keselamatan Kanjeng Dewi Anjarwati,” ujar salah seorang abdi dalem.
            “Mungkin, hamba bisa pergi ke tempat Raden Baron Kusumo esok hari, jika sampai tengah hari Raden Baron Kusumo belum juga kemari menjemput kita, Kanjeng,” ujar pengawal.
            “Baiklah, aku setuju dengan usulmu, pengawal,”
JJJ
            Para abdi dalem wanita, pengawal dan Dewi Anjarwati terjaga sepanjang malam. Mereka semua tidak bisa beristirahat dengan tenang atau bahkan tidur sejenak hanya untuk melepas lelah. Ditemani dengan suara derasnya air yang mengalir jatuh dari coban, sedikit menenangkan hati mereka karena setidaknya suasana tidak terlalu hening.
            Sudah tengah hari, namun Raden Baron Kusumo belum juga terlihat batang hidungnya. Si pengawal itu pun menunaikan janjinya kepada Dewi Anjarwati untuk pergi ke tempat Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono bertarung. Ia juga mengajak serta dua orang abdi dalem wanita untuk menemaninya. Sementara dua abdi dalem lainnya tetap tinggal di coban bersama Dewi Anjarwati menunggu mereka kembali dengan harapan membawa kabar baik.
JJJ
            Sore menjelang, pengawal dan kedua abdi dalem wanita kembali ke coban menemui Dewi Anjarwati dengan aura dan mimik muka yang tak biasa. Mereka terlihat lesu. Pada awalnya Dewi Anjarwati terlihat senang atas kedatangan mereka yang berarti mereka kembali bersama dengan suaminya yang berjanji akan menjemputnya. Namun yang terlihat hanyalah si pengawal dan dua abdi dalemnya. Dewi Anjarwati merasa heran.
            “Kenapa kalian lama sekali? Kenapa kembali tanpa Raden Baron Kusumo? Di mana suamiku? Apa yang terjadi? Apakah ia baik-naik saja? Cepat katakan padaku!” Dewi Anjarwati mencecar pengawal dan para abdi dalemnya yang baru saja kembali. Mereka menunduk, saling berpandangan. Mereka seperti bingung harus akan menjawab pertanyaan Dewi Anjarwati. mereka hanya tertunduk diam.
            “Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” Dewi Anjarwati sedikit membentak. Membuat mereka semua terkejut dalam keheningan mereka.
            “Kanjeng Dewi Anjarwati, sebaiknya kita semua segera kembali pulang ke Gunung Kawi,” kata salah satu abdi dalem.
            “Kembali ke Gunung Kawi? Apa maksudmu? Aku akan kembali saat suamiku, Raden Baron Kusumo menjemputku di sini, di coban ini.”
            “Tapi...”
            “Tapi apa? Ada apa ini? sepertinya kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Di mana suamiku, kenapa dia tidak bersama dengan kalian kemari?”
            “Mo...mohon maaf, Kanjeng... ta... ta... tapi... kita sudah tidak bisa menunggu Raden Baron Kusumo lagi. Kita harus kembali...” jawab si pengawal terbata.
            “Kenapa? Aku tidak akan pergi ke mana pun sampai suamiku datang kemari menjemputku. Aku akan menunggunya hingga dia datang, bukankah dia sudah berjanji.”
            “Kanjeng Dewi Anjarwati... ta... tapi Raden Baron Kusumo sudah... sudah meninggal,” ujar si pengawal.
            “APA!!??? Tidak!! Aku tidak percaya kepada kalian. Tidak mungkin...” air mata mulai membasahi pipi Dewi Anjrwati. “Tidak mungkin... tidak mungkin dia meninggal...” Tangis Dewi Anjrwati pun tumpah. “Tidak mungkin, aku tidak percaya kepada kalian, kalian pembohong,” ujar Dewi Anjarwati sambil menangis. 
            “Tidak, Kanjeng, kami tidak berbohong,” kata si pengawal.
            “Saat kami tiba di sana... kami... melihat semua prajurit, Joko Lelono, dan... Raden Baron Kusumo...mereka... mereka sudah gugur. Lalu... kami bertiga memutuskan untuk... untuk memakamkan mereka di hutan,” tambah si pengawal. Tangis Dewi Anjrwati pun semakin pecah.
            “Sebaiknya kita kembali pulang ke Gunung Kawi, Kanjeng. Sekarang Kenjeng Dewi Anjarwati telah menjadi Rondo (Janda),” kata salah satu abdi dalem sambil menangis.
            “Raden Baron Kusumo tidak akan datang, dia sudah tiada, sudah tidak ada gunanya menunggu, Kanjeng.” ujar si pengawal lagi.
            “TIDAK! Aku akan tetap di coban ini menunggu suamiku datang. Aku tidak percaya pada kalian. Tidak mungkin suamiku meninggal. Aku akan tetap di sini. Di coban ini. Jika kalian ingin kembali ke Gunung Kawi, kembalilah. Aku tidak. Dan jika kalian bertemu dengan suamiku, bilang padanya, aku... Dewi Anjarwati menunggunya di coban ini. Aku akan duduk di batu besar itu tanpa beranjak sedikit pun dari sini sampai dia datang.!” Setelah berkata seperti itu kepada para abdi dalem dan pengawalnya dengan mata sembab dan dipenuhi dengan emosi, kekecewaan dan kesedihan, Dewi Anjarwati lalu duduk di batu besar di bawah air terjun.
            Sejak itulah air terjun tersebut dinamai sebagai Coban Rondo (Air Terjun Janda) karena di coban itulah Dewi Anjarwati menunggu suaminya, Raden Baron Kusumo yang telah meninggal dunia dan Dewi Anjarwati pun menjadi seorang Rondo (Janda).
*TAMAT*



Dulu pernah ikut Lomba Penulisan Cerita Rakyat yang Diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015


Dulu pernah ikut Lomba Penulisan Cerita Rakyat yang Diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015 

Berhubung dulu tahun 2015 pernah sekali mengikuti lomba cerita rakyat yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Oia, boleh kali ya tulisan ane yang dulu pernah ane kirim buat ikutan tuh event, ane tulis lagi di sini, secara ane kan kagak menang ataupun masuk nominasi berapa besar gitu,,, toh uda 3 tahun yang lalu juga.... heheheheheeee.... oia sebelum itu, ane cm mau share aja tentang persyaratan-persyaratannya. 
Kayak gini nih dulu persyaratannya....

Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015
Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Cerita Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas bercerita di kalangan masyarakat dalam rangka melindungi kekayaan budaya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat terdokumentasi cerita-cerita rakyat dan tertanam nilai-nilai budaya sehingga nilai-nilai tersebut teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Lomba dengan tema “Cerita Rakyat sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa” berupa penulisan kembali cerita rakyat yang bersumber pada cerita rakyat Indonesia dengan versi penulis, baik dalam jenis mite, legenda, maupun dongeng. Lomba ini dibagi dalam dua kategori, yakni:
1. Cerita rakyat untuk anak
2. Cerita rakyat untuk umum
Ketentuan Umum:
1. Naskah cerita merupakan penulisan kembali karya orisinal perorangan yang belum pernah dipublikasikan dan bersumber pada cerita rakyat Indonesia.
2. Cerita rakyat yang ditulis kembali diharapkan diambil dari cerita rakyat yang selama ini belum banyak digali.
3. Setiap peserta hanya dapat mengirimkan naskah 1(satu) judul.
4. Panjang naskah terdiri atas 10.000--15.000 kata (10--15 halaman) tanpa gambar/ilustrasi.
5. Naskah diketik di atas kertas A4, Times New Roman 12, spasi 1,5, margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm.
6. Judul cerita bebas dan sesuai dengan inti cerita dan tema lomba. Cerita tidak mengandung SARA, pornografi, dan kekerasan.
7. Pendaftaran lomba dimulai tanggal 10 Juni 2015 dan ditutup tanggal 20 Agustus 2015 (stempel pos/jasa Kurir)
8. Naskah yang dilombakan menjadi milik Direktorat Internalisasi Nilai dan DiplomasiBudaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta hak cipta tetap pada pengarang.
9. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
10. Naskah dan foto kopi KTP/Kartu Pelajar peserta dikirim dalam bentuk softcopy ke alamat email kekayaanbudaya@gmail.com atau hardcopy ke alamat: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Kompleks Kemdikbud Gedung E Lantai 10. Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta PusatTelpon: (021) 5725047/5725564.
Hadiah Pemenang baik untuk kategori cerita rakyat untuk anak maupun cerita rakyat untuk umum yaitu:
 Juara I sebesar Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah),
 Juara II sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah),
 Juara III sebesar Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah),
 Harapan I sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah),
 Harapan II sebesar Rp. 7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah),
 Harapan III sebesar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah),
 Enam hadiah hiburan masing-masing sebesar Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah).
Ketentuan Khusus:
1. Pajak hadiah ditanggung pemenang
2. Dua belas finalis dari dua kategori diundang ke Jakarta untuk wawancara
3. Karya 12 terbaik akan diterbitkan dalam Katalog Pemenang Lomba.
4. Tim Juri terdiri atas ahli dalam bidang tradisi lisan, akademisi, praktisi, media, dan bahasa.
Tahapan Kegiatan dan Jadwal
1. Publikasi Lomba Mei - Juni 2015
2. Pengiriman Naskah Juni – Agustus 2015
3. Seleksi Teknis Agustus 2015
4. Penilaian Naskah September 2015
5. Wawancara Finalis Oktober 2015
6. Pengumuman Pemenang dan Penyerahan Hadiah Oktober 2015

Pada waktu itu ane bingung mau pake cerita apaan. Nah, karena ane kebetulan menetap di kota Malang dan di Malang ada semacam tempat rekreasi alam yang namanya Coban Rondo maka ane putuskan buat bikin cerita tentang Legenda Asal Muasal Coban Rondo. Ini bukti ane penah ngirim ke sana.... mencari-cari file lama,,,, percaya gk percaya sih... hehehehe... untuk cerita Legenda Asal Muasal Coban Rondo selengkapnya bakal di posting di postingan yang terpisah ya,,, biar gak campur aduk,,, hehehehe....