![]() |
| https://www.insidehighered.com/sites/default/server_files/styles/large/public/media/dennihy%20interviews.jpg? itok=Ab1H_YAD
Setiap orang terutama para job seeker pastilah harus mengikuti berbagai tes yang diselenggarakan perusahaan swasta / instansi pemerintah untuk mendapatkan pekerjaan di tempat tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa tes yang biasa diselenggarakan seperti Tes Kemampuan Dasar (TKD), Tes Kemampuan Bidang (TKB), tes Psikologi dan tes Wawancara. Pembahasan kali ini adalah mengenai tes Wawancara. Apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk tes wawancara?
Tes wawancara adalah tes untuk mengetahui apakah kandidat karyawan benar-benar mengetahui tentang perusahaan/ instansi yang dilamar, mengetahui tingkat kepercayaan diri kandidat, untuk mengetahui apa motivasi kandidat melamar di perusahaan/ instansi tersebut dsb.
Umumnya pertanyaan tes wawancara kerja adalah sebagai berikut:
1. Apa motivasi Anda melamar di instansi kami?
2. Apa yang Anda ketahui tentang instansi kami?
3. Apa kontribusi yang bisa Anda lakukan bagi instansi kami?
4. Adakah keterkaitan antara pekerjaan yang Anda lamar dengan kualifikasi pendidikan Anda?
5. Apa Anda tahu berapa gaji yang ditawarkan? dan apakah Anda tetap mau bekerja di instansi kami apabila gaji yang diperoleh ternyata di bawah ekspektasi Anda?
Sebagaimana yang pernah ane alami sendiri, pertanyaan-pertanyaan tersebut benar-benar sangat umum ditanyakan. Namun ada pertanyaan yang cukup membuat saya melongo. Yupz, ane tidak memperkirakan ada pertanyaan seperti ini.
"Misalnya kamu dapat Bos GALAK bagaimana?"
"Kan bosnya galak nih, kalau kamu dimarahin sama bos padahal kamu nggak salah gimana?"
![]()
https://www.blogger.com/blogger.gblogID=3256144249595978334#editor/target=post;postID=493220496457119658
Unexpected question ini benar-benar membuat pikiran BLANK. Kepala serasa mengeluarkan asap knalpot hitam dan jantung serasa melompat dari porosnya..... akakakakakak LEBAY!!!
Yups, jawaban yang terlontar dari mulut ane adalah "dapet bos galak ya? gimana ya? kalau saya salah sih ya bos pasti marah" dan ane tetap dicecar dg pertanyaan "Iya, mbak, kalau salah pasti dimarahi itu wajar, tapi kalau nggak salah tetep dimarahi bagaimana?"
Dalam hati "Mampus! nah loh, gimana jawabnya nih???" dan ane tetap dengan pendirian ane kalau ane salah pasti dimarahi dan dengan tambahan "Kalau dimarahi ya terima aja, cuek aja." Disitu ane berasa GATOT banget pada tes wawancara ini. Dan salutnya, para interviewer memberi masukan ke ane yang hanyalah interviewee ini seperti ini "Kalau dimarahin padahal nggak salah ya jangan diem aja, mbak, jangan terima-terima aja." Sejenak ane pun ngerasa agak lega, nggak tahu kenapa? heheheee...
Sepulang dari tes wawancara yang menurut ane udah GATOT se-GATOT-GATOT-nya, ane pun berusaha bertanya sama Bokap dan beliau hanya memberikan saran sangat singkat "Ya kamu jawab gini aja kalau nggak salah bos nggak mungkin marah, gitu." Dalam hati ane berkata "Bener juga sih apa kata bokap, karyawan nggak salah ngapain bosnya marah?" tapi entah kenapa ane merasa nggak puas dengan jawaban bokap. Ane pun berusaha nanya ke temen ane anggap saja namanya A.A. (nama inisial) yang notabene kayaknya udah sangat berpengalaman sama "atasan yang galak-galak" dan jawaban temen ane kayak gini:
"Yang namanya Bos adalah atasan. Kita bener aja bisa salah apalagi salah. Jadi untuk masalah dimarahi dan sebagainya ya harus terima. Jangan cepet kesel dan cepet ngerubah mindset. Jangan pernah takut sama atasan yang galak. Mereka galak agar kita profesional dalam segala hal pekerjaan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal."
So, dari jawaban temen ane ini, otak ane mulai tercerahkan. Dari sini ane juga mikir, jadi bos juga nggak gampang, tingkat stres jg lebih tinggi (gaji jg lebih tinggi pastinya, heheheee), jadi wajar kalau bos sering uring-uringan kalau karyawan/bawahannya nggak bener pas kerja. Semoga nanti ketika ane mulai kerja dan sampe seterusnya kerjaan ane lancar-lancar aja.... AAAAMIIIIIIIN!!!
(hidup gak ada yang semulus jalan tol woooi, jalan tol aja kadang masih nggerenjel2 aspalnyaaaaaaaa,, sadaaaaar!!!) heheheeeee..... ^___^
Jadi untuk kalian para job seeker yang mau tes wawancara, nggak ada salahnya buat persiapan kalau-kalau dapet pertanyaan model gini. Kalian bisa nyomot jawaban temen dan bokap ane kali aja bisa di-combine. heheheee... SEMOGA BERMANFAAT.... ^___^ |
Tuesday, August 14, 2018
UNEXPECTED QUESTION pada TES WAWANCARA KERJA (Kalau Dapet Bos Galak)
Thursday, May 17, 2018
Legenda Asal Muasal Coban Rondo
Fyi: Cerita ini adalah cerita yang dulu pernah ane kirim buat Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Cerita Rakyat. Cerita ini tidak 100% benar ya,,, pasti ada sedikit tambahan MSG di dalamnya hehehe,,, tapi cerita ini dibuat berdasarkan legenda yang sudah ada....
Alkisah
hiduplah seorang gadis keturunan bangsawan yang terhormat dari daerah Gunung Kawi.
Bangsawan tersebut memiliki seorang putri yang bernama Dewi Anjarwati. Ia adalah
seorang wanita berparas cantik, berbudi luhur dan santun.
Kini
Dewi Anjarwati sudah beranjak dewasa. Kedua orang tua Dewi Anjarwati menganggap
sudah saatnya untuk menikahkan anak gadis satu-satunya tersebut. Mereka sudah
lama merencanakan perjodohan anak gadisnya dengan anak lelaki dari seorang sahabat
sesama bangsawan dari daerah Gunung Anjasmoro yang bernama Raden Baron Kusumo.
Namun, mereka masih ragu, apakah nantinya Dewi Anjarwati akan menerima
perjodohan ini.
Keesokan
harinya, datanglah seorang kurir suruhan bangsawan Gunung Anjasmoro yang
mengantarkan sebuah surat. Surat itu menyatakan bahwa ia ingin memperjelas rencana
perjodohan putra dan putri mereka serta menjelaskan bahwa Raden Baron Kusuma setuju
dengan rencana perjodohan yang dulu pernah mereka sepakati bersama. Kemudian, ayahanda
dan ibunda Dewi Anjarwati pun segera menemui anak gadisnya yang sedang asik merangkai
bunga di taman bunnga belakang rumah.
“Anakku, Adinda Dewi
Anjarwati,” kata ayahandanya.
“Salam, Ayahanda, Ibunda,”
jawab Dewi Anjarwati sambil menundukkan kepala dan menghentikan kegiatannya
sejenak. “Ada apa gerangan Ayahanda dan Ibunda datang kemari?”
“Anakku, kini kau sudah
beranjak dewasa, nak. Ayahanda dan Ibundamu berpikir, sudah saatnya bagimu
untuk menikah,”
“Ayahanda dan Ibunda,
Adinda akan mematuhi semua yang Ayahanda dan Ibunda katakan selagi itu adalah
keputusan yang terbaik bagi Andinda. Tapi, siapakah gerangan yang mau menikah
denganku?”
“Kau tidak perlu cemas
anakku,” ibunda Dewi Anjarwati mendekat dan membelai lembut kepala putrinya.
“Ayahandamu memiliki seorang sahabat bangsawan dari dearah Gunung Anjasmoro. Ia
memiliki anak lelaki yang gagah dan tampan. Ayahandamu akan menjodohkanmu
dengannya,” kata ibundanya sambil tersenyum.
“Kau pernah bertemu dengannya saat usiamu 10
tahun, anakku. Saat sahabat Ayah yang berasal dari Gunung Anjasmoro dan
keluarganya berkunjung ke kediaman kita” tambah ayahandanya.
“Benarkah itu?” tanya
Dewi Anjarwati.
“Ya, anakku. Kau pernah
bermain dengannya selama beberapa hari. Kau mungkin masih mengingat anak lelaki
itu. Raden Baron Kusuma,” ibundanya menambahi. “Saat itu, kami sepakat untuk
menjodohkan kalian berdua jika kalian sudah dewasa,”
Terbersit sesosok anak
lelaki yang dulu pernah bermain bersamanya di taman bunga belakang rumahnya. Ia
seorang yang ramah dan menyenangkan, “Ya, aku masih ingat walau hanya
samar-samar, Ibunda. Aku setuju dengan perjodohan ini Ayahanda, Ibunda,” kata
Dewi Anjarwati yang dengan gembira menerima perjodohan ini.
“Benarkah? Ini berita
yang sangat menggembirakan.” Ayahanda dan Ibunda Dewi Anjarwati serta Dewi Anjarwati
sendiri terlihat bahagia.
Ayahnda Dewi Anjarwati
pun segera menuliskan surat balasan akan diterimanya perjodohan antara Raden
Baron Kusumo dengan Dewi Anjarwati. Ia segera mengutus kurir untuk mengantarkan
surat tersebut kepada sahabatnya itu, Bangsawan Gunung Anjasmoro.
JJJ
Satu
minggu berselang, seorang kurir suruhan Bangsawan Gunung Anjasmoro datang dan
mengantarkan surat balasan yang menyatakan bahwa ia sangat senang akan kabar
ini. Ia beserta kerabatnya termasuk Raden Baron Kusumo akan datang ke Gunung
Kawi untuk meminang Dewi Anjarwati. Kemungkinan mereka akan sampai sekitar 10
hari lagi dengan membawa banyak persembahan untuk Dewi Anjarwati.
Mengetahui
hal itu, Ayahanda Dewi Anjarwati segera memerintahkan para abdi dalem untuk
menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk acara pesta pernikahan Dewi
Anjarwati 10 hari ke depan. Pesta tersebut akan menjadi pesta pernikahan
termegah dan semua rakyat Gunung Kawi diundang untuk menghadirinya.
JJJ
Tiga
hari menjelang pesta pernikahan, rombongan keluarga bangsawan Gunung Anjasmoro
telah tiba lebih cepat dari yang telah diperkirakan. Mereka membawa banyak
sekali sesembahan hasil bumi buah-buahan dan umbi-umbiaan, perhiasan emas, dan
kain sutra. Mereka juga disambut dan dijamu dengan hangat. Namun tak terlihat sosok
Dewi Anjarwati ikut menyambut mereka.
Saat
perjamuan makan berlangsung antar kedua keluarga bangsawan tersebut, Raden
Baron Kusumo merasa gugup dan sedikit tak berselera makan. Ia juga hanya
menundukkan kepala sembari ikut tersenyum tipis saat kedua keluarga tersebut
sedang berguarau. Ia berharap-harap cemas ingin segera bertemu dengan Dewi
Anjarwati. Ia takut jika Dewi Anjarwati tiba-tiba berubah pikiran. Tapi pikiran
itu segera ditepisnya.
“Kemana gerangan putrimu
yang cantik Dewi Anjarwati, wahai sahabatku? Aku rasa anakku Raden Baron Kusumo
tak sabar ingin segera bertemu dengannya sebelum acara pernikahan berlangsung,”
tanya Ayahanda Raden Baron Kusumo yang sepertinya tahu akan apa yang sedang
dipikirkan oleh putra kesayangannya itu.
“Maaf,
wahai sahabatku. Sepertinya putriku belum selesai berbenah dan bersolek.
Tunggulah sebentar lagi, Raden Baron Kusumo.” Jawab Ayahanda Dewi Anjarwati sambil
tersenyum.
Ayahanda
Raden Baron Kusumo tertawa. “Tidak apa-apa, wahai sahabtaku. Aku sangat
mengerti. Wanita pasti ingin tampil sempurna dihadapan calon suaminya,”
Sementara
di kamar Dewi Anjarwati, Dewi Anjarwati yang telah selesai berbenah dan
bersolek telah bersiap untuk pergi ke perjamuan makan. Dewi Anjarwati juga
merasakan hal yang sama. Bagaimana jika Raden Baron Kusumo tiba-tiba ingin
membatalkan pernikahan ini saat mereka berdua bertemu. Bagaimana jika ia salah
bertingkah dan membuat calon suaminya tidak ingin menikahinya. Ia sangat gugup
dan kalut namun juga tak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya itu. Ia
berjalan bolak nalik di kamarnya sambil berkali-kali menghela napas panjang. Ia
tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Salam,
Ayahanda dan Ibunda,” Dewi Anjarwati memberi salam kepada kedua orang tuanya
sesampainya ia di ruang perjamuan makan.
“Salam,
anakku. Beri salam juga kepada keluarga Bangsawan Gunung Anjasmoro dan calon
suamimu,” jawab Ayahanda Dewi Anjarwati.
“Salam
hormat dariku untuk keluarga bangsawan Gunung Anjasmoro,” Dewi Anjarwati
menyampaikan salamnya.
“Salam,”
seluruh keluarga Bangsawan Gunung Anjasmoro menjawab salam Dewi Anjarwati. Kemudian,
Dewi Anjarwati segera duduk di samping ibundanya. Dewi Anjarwati merasa sangat canggung,
bahagia, cemas, dan takut.
“Apa
kau melihat pemuda yang duduk di sebelah kanan sahabat ayah itu, anakku?” tanya
ayahanda Dewi Anjarwati.
“Iya,
Ayahanda,” jawab Dewi Anjarwati.
“Dialah
calon suamimu, Raden Baron Kusuma,” ujarnya lagi.
Dewi Anjarwati dan Raden Kusuma
saling bertatapan. Mereka saling terpesona. Tergambar guratan senyum bahagia dari
keduanya. Wajah mereka memerah. Malu, bahagia, canggung, takut dan jantung
mereka berpacu sangat cepat.
“Pernikahan
kalian akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang. Dan persiapan untuk pesta
pernikahan kalian sudah hampir selesai.” Ayahanda Dewi Anjarwati mengumumkan.
Semua
yang hadir dalam perjamuan makan sangat antusias dengan pernikahan Raden Baron
Kusumo dan Dewi Anjarwati. Begitu pula dengan dua insan yang sedang kasmaran yang
tiga hari lagi akan resmi menjadi sepasang suami dan istri.
JJJ
Tiga
hari berselang. Hari pernikahan Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo pun tiba.
Para abdi dalem tengah sibuk mempersiapkan sajian makanan untuk para tamu,
menghiasi seluruh bagian rumah dengan berbagai macam bunga segar dan janur
kuning. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan hari bahagia ini. Begitupun
dengan Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang sedari pagi buta tengah
mempersiapkan diri menuju pelaminan. Semua rakyat Gunung Kawi diundang dalam
pesta akbar tersebut. Tak terkecuali para pejabat lain dari daerah Gunung Kawi dan Gunung Anjasmoro.
Saat
Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo dipertemukan sebagai sepasang pengantin. Raut wajah kedua
mempelai tampak sangat cerah dan bahagia yang disertai dengan rasa gugup dan
canggung. Kemudian, mereka berdua berjalan ke arah halaman rumah untuk menjalani
prosesi sungkeman terhadap Kedua orang tua Dewi Anjarwati dan Baron Kusumo yang
sedang menunggu di kuade yang telah disiapkan sebagai tanda bahwa mereka berdua
meminta restu untuk membina rumah tangga begitupun sebaliknya, kedua orang tua
mempelai memberikan restu kepada mereka. Hal itu dilakukan di hadapan semua
orang yang hadir dalam pesta perikahan.
Suasana pernikahan akbar antara Dewi Anjarwati
dan Raden Baron Kusumo begitu penuh suka cita. Banyak kalangan pejabat mau pun
rakyat jelata yang datang untuk memeriahkan pernikahan kedua mempelai tersebut.
Mereka mendoakan agar pernikahan antara Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo
senantiasa damai dan sejahtera serta dikaruniai anak-anak yang pandai dan
berbakti kepada orang tua. Pesta pernikahan pun digelar semalam suntuk yang
dimeriahkan oleh tari-tarian tradisional dan alunan musik yang mengiringi tembang-tembang
jawa yang dinyanyikan oleh para sinden.
JJJ
Selang
tiga hari sejak diresmikannya pernikahan antara Dewi Anjarwati dan Raden Baron
Kusumo. Kedua orang tua dan keluarga Raden Baron Kusumo pun berpamitan untuk
kembali ke Gunung Anjamara. Hanya Raden
Baron Kusumo saja yang tetap tinggal di Gunung Kawi.
JJJ
Tiga
puluh hari berlalu sejak pernikahan tersebut. Hari-hari dilalui berjalan
seperti biasa, hanya perbedaan kecil yang terjadi. Raden Baron Kusumo kini
membantu ayahanda mertuanya untuk menjalankan tugas politik di daerah Gunung
Kawi. Hingga pada suatu pagi Dewi Anjarwati megutarakan niat untuk mengunjungi kampung
halaman suaminya di Gunung Anjasmoro kepada Raden Baron Kusumo.
“Kanda,
tidakkah sebaiknya kita berkunjung ke Gunung Anjasmoro? Aku ingin sekali
berkunjung ke tanah kelahiran Kanda. Aku juga ingin bertemu dengan ayahanda dan
ibunda mertua di sana. Aku rindu kepada mereka, tidakkah kau juga merindukan
mereka?” tanya Dewi Anjarwati.
“Kau
benar, Dinda. Aku juga merindukan mereka. Aku rasa pergi berkunjung ke kampung
halamanku bukanlah ide yang buruk, tapi alangkah baiknya jika kita juga meminta
izin kepada Ayahanda dan Ibundamu, Dinda”
JJJ
Keesokan
harinya, mereka berdua pun memberitahu perihal niatan mereka berdua untuk
berkunjung ke tanah kelahiran Raden Baron Kusumo di Gunung Anjasmoro kepada ayahanda
dan ibunda Dewi Anjarwati.
“Tidak,
anakku. Usia pernikahan kalian masih menginjak usia tiga puluh enam hari. Janganlah
kalian bepergian jauh. Jarak antara Gunung Anjasmoro dan Gunung Kawi sangatlah
jauh. Butuh waktu beberapa hari untuk bisa sampai ke sana, Ibunda khawatir akan
terjadi hal buruk yang akan menimpa kalian jika kalian pergi.” kata ibunda Dewi
Anjrwati khawatir.
“Tapi,
Ibunda, Dinda kira tidak ada salahnya jika Dinda dan Kakanda pergi ke Gunung
Arjuna untuk mengunjungi sanak saudara yang ada di sana,” ujar Dewi Anjarwati.
“Benar,
Ibunda. Menantumu ini akan mempersiapkan perbekalan apa saja yang diperlukan untuk
perjalanan kami agar apa yang Ibunda khawatirkan tidak akan terjadi. Lagi pula,
menantumu ini sudah menempuh jarak sejauh itu untuk bisa meminang putri
kesayangan Ibunda,” Raden Baron Kusumo menambahkan.
“Tapi
anakku, Ibunda tetap khawatir. Ibunda tidak ingin kejadian buruk menimpa kalian
di perjalanan nanti,”
“Sudahlah.
Tidak apa-apa, istriku. Aku yakin mereka bisa menjaga diri dan akan baik-baik
saja. Asalkan perjalanan ini benar-benar dipersiapkan dengan matang. Apa lagi,
menantu kita sudah pernah menempuh jarak yang jauh untuk bisa meminang putri
kita tercinta. Izinkanlah mereka pergi,” bujuk Ayahanda Dewi Anjarwati.
“Tapi...
perasaanku tidak enak mengenai rencana ini,” ibunda Dewi Anjarwati tetap
bersikukuh. Namun pada akhirnya ibunda Dewi Anjarwati pun setuju dengan
keputusan ini setelah terjadi perdebatan yang cukup alot walaupun dalam hatinya
ia tetap bersikukuh untuk tidak mengizinkan putri dan menantunya pergi.
“Baiklah jika kalian memaksa. Pastikan kalian
benar-benar mempersiapkan perbekalan apa saja yang dibutuhkan untuk kalian.
Jangan lupa bawa juga beberapa prajurit untuk mendampingi kalian,” raut wajah Ibunda
Dewi Anjarwati terlihat sangat khawatir dan sedih namun dia terpaksa
mengizinkan mereka pergi.
JJJ
Lima
hari berselang, yang berarti hari ke tiga puluh enam pernikahan (selapan)
antara Dewi Anjarwati dan Baron Kusumo. Pada hari itu, segala persiapan yang
dibutuhkan dalam perjalanan telah dipersiapkan. Mulai dari persediaan makanan,
minuman, beberapa tanaman obat, dua kereta kuda yang masing-masing diapkai
untuk tempat penyimpanan bekal dan yang satu untuk tempat istirahat Dewi Anjarwati
dan Raden Baron Kusumo, 15 prajurit laki-laki bersenjatakan keris dan tombak,
serta 4 abdi dalem wanita.
“Hati-hati
anakku. Ibunda di sini akan selalu mendoakan keselamatan kalian. Ibunda benar-benar
sangat khawatir. Tidak bisakah kalian berubah pikiran untuk tidak pergi?” bujuk
ibunda Dewi Anjarwati sambil memeluk Dewi Anjarwati.
“Jangan
khawatir, Ibunda. Kami akan baik-baik saja, doakan kami, Ibunda, Ayahanda,”
kata Raden Baron Kusumo.
“Jaga
baik-baik putriku,” ujar ayahnda Dewi Anjarwati.
“Tentu
saja, Ayahanda. Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan
menjaganya apa pun risikonya,” jawab Raden Baron Kusumo.
“Kami
pergi dulu, Ayahanda, Ibunda,” pamit Dewi Anjarwati sambil melepaskan pelukan ibundanya.
Ibunda Dewi Anjarwati merasa hatinya enggan melepas kepergian anak dan menantu
kesayangannya tersebut. Tapi apa daya jika mereka tetap bersikukuh untuk pergi.
Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo pergi dengan menaiki kereta kuda. Sedang
para abdi dalem dan pengawalnya berjalan berbaris mengiringi perjalanan mereka.
JJJ
Selang
tiga hari perjalanan, sampailah rombongan tersebut di daerah pujon. Saat tengah
melintasi daerah pujon matahari cukup terik berada di ubun-ubun, Dewi Anjarwati
merasa haus dan ternyata persediaan air minum sudah habis. Dewi Anjarwati pun
meminta suaminya untuk mencarikan air. Lalu, Raden Baron Kusumo pun berangkat
mencari air dengan ditemani oleh empat pengawal sambil membawa dua gentong
penyimpanan air.
Sekitar
satu jam, Raden Baron Kusumo dan empat pengawalnya mencari sumber mata air.
Kemudian Raden Baron Kusumo pun mendengar suara gemericik air. Ia lalu menulusuri
kemana suara air tersebut. Suara tersebut semakin deras hingga pada akhirnya Raden
Baron Kusumo pun menemukan sebuah coban (air terjun) dengan batu besar di
bawahnya.
“Isi
gentong kita dengan air sampai penuh, lalu kembalilah kalian ke tempat istriku
beristirahat,” suruh Raden Baron Kusumo kepada keempat pengawalnya yang
langsung melakukan apa yang diperintahkannya. “Aku akan berada di coban ini
sebentar membasuh tubuhku,” tambah Raden Baron Kusumo. Ia terpikat akan
kejernihan air, suasana damai dan senandung kicauan burung-burng yang bernyanyi
merdu di coban tersebut.
JJJ
Sementara
itu setelah satu jam kepergian Raden Baron Kusumo, tiba-tiba datanglah seorang
pemuda gagah berwajah garang menaiki kuda hitam tengah melintas dan menghampiri
tempat peristirahatan Dewi Anjarwati. Pemuda tersebut memperkenalkan dirinya
sebagai seseorang yang bernama Joko Lelono Sang Pendekar Sakti kepada Dewi
Anjarwati.
Pada
awalnya Dewi Anjarwati bersikap baik pada Joko Lelono atas kesopanannya menyapa
Dewi Anjarwati dan mengajaknya berbincang-bincang. Namun lambat laun Joko
Lelono mulai bersikap kurang ajar dengan merayus Dewi Anjarwati sehingga
membuat Dewi Anjarwati geram.
“Ikutlah
berkuda dan berkelana bersamaku, wahai wanita jelita. Tinggalkan saja suami dan
pengawalmu ini. Ikutlah bersamaku berkelana. Engkau akan kujanjikan bahagia
bila hidup bersamaku dan menikah denganku,” rayu Joko Lelono.
“Jaga
perkataanmu kisanak, aku tidak akan pergi dari sini sampai suamiku kembali.”
Ujar Dewi Anjarwati marah. Joko Lelono tetap saja tak beranjak dari sisi
samping kereta kuda Dewi Anjarwati dan tetap merayunya.
“Pergilah
Kisanak, aku tidak akan pergi denganmu. Aku sudah bersuami dan aku akan
menunggunya di sini sampai dia datang. Jika tidak, aku akan menyuruh pengawal
ku untuk menyingkirkanmu dari sini,” ancam Dewi Anjarwati.
Dua
jam berselang saat Raden Baron Kusumo kembali ke tempat Dewi Anjarwati berada.
Di kejauhan ia mendengar suara Dewi Anjarwati yang berteriak. Raden Baron
Kusumo lalu bergegas. Sesampainya di sana, ia terkejut melihat para pengawal
sudah terkapar, sedangkan para abdi dalem wanita dan satu pengawal yang tadi
menemaninya mengambil air tengah berusaha menarik lengan Dewi Anjarwati ke sisi
kanan sedang sisi kiri sedangkan seorang lelaki asing sedang menarik lengan
kanan isterinya.
“BERHENTI!!!”
Teriak Raden Baron Kusumo dengan lantang.
“SUAMIKU!!!”
Teriak Dewi Anjarwati. mengetahui hal ini, Joko Lelono segera melepaskan lengan
Dewi Anjarwati. Dewi Anjarwati dan para abdi dalem wanita pun segera berlari ke
arah Raden Baron Kusumo.
“Berani-beraninya kau menyentuh isteriku,”
ujar Raden Baron Kusumo
“Wanita
cantik itu tidak akan menjadi isterimu lagi jika ia pergi bersamaku,” jawab
Joko Lelono.
“Tidak
akan aku biarkan kau bersikap kurang ajar terhadap isteriku,” bentak raden
Baron Kusumo.
“Jadi
kau menantangku! Lebih baik aku habisi kau segera,” tantang Joko Lelono.
“Aku
tidak takut padamu,” jawab Raden Baron Kusumo tegas.
“Pengawal,
cepat bawa Dewi Anjarwati berlindung di coban yang kita temukan tadi. Aku akan
segera menyusul setelah urusanku selesai” Perintah Raden Baron Kusumo.
“Baik,
Raden,” jawab pengawal tersebut patuh. Pengawal itu pun segera menuntun para
abdi dalem dan Dewi Anjarwati pergi meninggalkan Raden Baron Kusumo dan Joko
Lelono bertarung.
“Aku
akan menunggumu menjemputku suamiku, kembalilah dengan selamat,” teriak Dewi
Anjarwati kepada suaminya sambil memalingkan kepalanya ke belakang.
“Aku
berjanji akan menjemputmu, istriku,” jawab Raden Baron Kusumo lantang.
JJJ
Setelah
satu jam berlari melewati hutan, sampailah mereka di coban itu. Dewi Anjarawati,
pengawal dan para abdi dalem sangat kelelahan. Mereka segera meminum air yang
jernih dan segar di coban itu. Mereka pun menunggu kedatangan Raden Baron
Kusumo di sana dengan cemas.
Lama
mereka menunggu kedatangan Raden Baron Kusumo hingga sang surya tak lagi menampakkan batang hidungnya. Dewi Anjarwati
sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan suaminya. Terbersit juga pikiran
andai ia mendengar perkataan ibundanya untuk tidak pergi. Namun, segera
ditepisnya pikiran itu karena Dewi Anjarwati masih berharap akan keselamatan
Raden Baron Kusumo.
“Pengawal,
suamiku belum juga kemari untuk menejmput kita, bagaimana jika kita kembali ke
tempat suamiku berada, aku khawatir sekali,” ujar Dewi Anjarwati.
“Mohon
Maaf, Kanjeng Dewi Anjarwati. Hari telah gelap, sebaiknya kita tetap menunggu
Raden Baron Kusumo datang kemari. Sangat berbahaya jika kita berjalan kembali
ke hutan pada malam hari, ada banyak binatang buas dan juga kemungkinan kita akan tersesat sangatlah
besar, Kanjeng,” jawab pengawal.
“Benar,
apa kata pengawal, Kenajeng. Sebaiknya kita menunggu di sini. Ini semua juga
demi keselamatan Kanjeng Dewi Anjarwati,” ujar salah seorang abdi dalem.
“Mungkin,
hamba bisa pergi ke tempat Raden Baron Kusumo esok hari, jika sampai tengah
hari Raden Baron Kusumo belum juga kemari menjemput kita, Kanjeng,” ujar
pengawal.
“Baiklah,
aku setuju dengan usulmu, pengawal,”
JJJ
Para
abdi dalem wanita, pengawal dan Dewi Anjarwati terjaga sepanjang malam. Mereka
semua tidak bisa beristirahat dengan tenang atau bahkan tidur sejenak hanya
untuk melepas lelah. Ditemani dengan suara derasnya air yang mengalir jatuh
dari coban, sedikit menenangkan hati mereka karena setidaknya suasana tidak
terlalu hening.
Sudah
tengah hari, namun Raden Baron Kusumo belum juga terlihat batang hidungnya. Si
pengawal itu pun menunaikan janjinya kepada Dewi Anjarwati untuk pergi ke
tempat Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono bertarung. Ia juga mengajak serta dua
orang abdi dalem wanita untuk menemaninya. Sementara dua abdi dalem lainnya
tetap tinggal di coban bersama Dewi Anjarwati menunggu mereka kembali dengan
harapan membawa kabar baik.
JJJ
Sore
menjelang, pengawal dan kedua abdi dalem wanita kembali ke coban menemui Dewi
Anjarwati dengan aura dan mimik muka yang tak biasa. Mereka terlihat lesu. Pada
awalnya Dewi Anjarwati terlihat senang atas kedatangan mereka yang berarti
mereka kembali bersama dengan suaminya yang berjanji akan menjemputnya. Namun
yang terlihat hanyalah si pengawal dan dua abdi dalemnya. Dewi Anjarwati merasa
heran.
“Kenapa
kalian lama sekali? Kenapa kembali tanpa Raden Baron Kusumo? Di mana suamiku?
Apa yang terjadi? Apakah ia baik-naik saja? Cepat katakan padaku!” Dewi
Anjarwati mencecar pengawal dan para abdi dalemnya yang baru saja kembali.
Mereka menunduk, saling berpandangan. Mereka seperti bingung harus akan
menjawab pertanyaan Dewi Anjarwati. mereka hanya tertunduk diam.
“Kenapa
kalian tidak menjawab pertanyaanku?” Dewi Anjarwati sedikit membentak. Membuat
mereka semua terkejut dalam keheningan mereka.
“Kanjeng
Dewi Anjarwati, sebaiknya kita semua segera kembali pulang ke Gunung Kawi,”
kata salah satu abdi dalem.
“Kembali
ke Gunung Kawi? Apa maksudmu? Aku akan kembali saat suamiku, Raden Baron Kusumo
menjemputku di sini, di coban ini.”
“Tapi...”
“Tapi
apa? Ada apa ini? sepertinya kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Di
mana suamiku, kenapa dia tidak bersama dengan kalian kemari?”
“Mo...mohon
maaf, Kanjeng... ta... ta... tapi... kita sudah tidak bisa menunggu Raden Baron
Kusumo lagi. Kita harus kembali...” jawab si pengawal terbata.
“Kenapa?
Aku tidak akan pergi ke mana pun sampai suamiku datang kemari menjemputku. Aku
akan menunggunya hingga dia datang, bukankah dia sudah berjanji.”
“Kanjeng
Dewi Anjarwati... ta... tapi Raden Baron Kusumo sudah... sudah meninggal,” ujar
si pengawal.
“APA!!???
Tidak!! Aku tidak percaya kepada kalian. Tidak mungkin...” air mata mulai
membasahi pipi Dewi Anjrwati. “Tidak mungkin... tidak mungkin dia meninggal...”
Tangis Dewi Anjrwati pun tumpah. “Tidak mungkin, aku tidak percaya kepada
kalian, kalian pembohong,” ujar Dewi Anjarwati sambil menangis.
“Tidak,
Kanjeng, kami tidak berbohong,” kata si pengawal.
“Saat
kami tiba di sana... kami... melihat semua prajurit, Joko Lelono, dan... Raden
Baron Kusumo...mereka... mereka sudah gugur. Lalu... kami bertiga memutuskan
untuk... untuk memakamkan mereka di hutan,” tambah si pengawal. Tangis Dewi
Anjrwati pun semakin pecah.
“Sebaiknya
kita kembali pulang ke Gunung Kawi, Kanjeng. Sekarang Kenjeng Dewi Anjarwati
telah menjadi Rondo (Janda),” kata salah satu abdi dalem sambil menangis.
“Raden
Baron Kusumo tidak akan datang, dia sudah tiada, sudah tidak ada gunanya
menunggu, Kanjeng.” ujar si pengawal lagi.
“TIDAK!
Aku akan tetap di coban ini menunggu suamiku datang. Aku tidak percaya pada kalian.
Tidak mungkin suamiku meninggal. Aku akan tetap di sini. Di coban ini. Jika
kalian ingin kembali ke Gunung Kawi, kembalilah. Aku tidak. Dan jika kalian
bertemu dengan suamiku, bilang padanya, aku... Dewi Anjarwati menunggunya di
coban ini. Aku akan duduk di batu besar itu tanpa beranjak sedikit pun dari
sini sampai dia datang.!” Setelah berkata seperti itu kepada para abdi dalem
dan pengawalnya dengan mata sembab dan dipenuhi dengan emosi, kekecewaan dan
kesedihan, Dewi Anjarwati lalu duduk di batu besar di bawah air terjun.
Sejak
itulah air terjun tersebut dinamai sebagai Coban Rondo (Air Terjun Janda)
karena di coban itulah Dewi Anjarwati menunggu suaminya, Raden Baron Kusumo
yang telah meninggal dunia dan Dewi Anjarwati pun menjadi seorang Rondo (Janda).
*TAMAT*
Dulu pernah ikut Lomba Penulisan Cerita Rakyat yang Diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015
Dulu pernah ikut Lomba Penulisan Cerita Rakyat yang Diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015
Berhubung dulu tahun 2015 pernah sekali mengikuti lomba cerita rakyat yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Oia, boleh kali ya tulisan ane yang dulu pernah ane kirim buat ikutan tuh event, ane tulis lagi di sini, secara ane kan kagak menang ataupun masuk nominasi berapa besar gitu,,, toh uda 3 tahun yang lalu juga.... heheheheheeee.... oia sebelum itu, ane cm mau share aja tentang persyaratan-persyaratannya.
Kayak gini nih dulu persyaratannya....
Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015
Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Cerita Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas bercerita di kalangan masyarakat dalam rangka melindungi kekayaan budaya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat terdokumentasi cerita-cerita rakyat dan tertanam nilai-nilai budaya sehingga nilai-nilai tersebut teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Lomba dengan tema “Cerita Rakyat sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa” berupa penulisan kembali cerita rakyat yang bersumber pada cerita rakyat Indonesia dengan versi penulis, baik dalam jenis mite, legenda, maupun dongeng. Lomba ini dibagi dalam dua kategori, yakni:
1. Cerita rakyat untuk anak
2. Cerita rakyat untuk umum
Ketentuan Umum:
1. Naskah cerita merupakan penulisan kembali karya orisinal perorangan yang belum pernah dipublikasikan dan bersumber pada cerita rakyat Indonesia.
2. Cerita rakyat yang ditulis kembali diharapkan diambil dari cerita rakyat yang selama ini belum banyak digali.
3. Setiap peserta hanya dapat mengirimkan naskah 1(satu) judul.
4. Panjang naskah terdiri atas 10.000--15.000 kata (10--15 halaman) tanpa gambar/ilustrasi.
5. Naskah diketik di atas kertas A4, Times New Roman 12, spasi 1,5, margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm.
6. Judul cerita bebas dan sesuai dengan inti cerita dan tema lomba. Cerita tidak mengandung SARA, pornografi, dan kekerasan.
7. Pendaftaran lomba dimulai tanggal 10 Juni 2015 dan ditutup tanggal 20 Agustus 2015 (stempel pos/jasa Kurir)
8. Naskah yang dilombakan menjadi milik Direktorat Internalisasi Nilai dan DiplomasiBudaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta hak cipta tetap pada pengarang.
9. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
10. Naskah dan foto kopi KTP/Kartu Pelajar peserta dikirim dalam bentuk softcopy ke alamat email kekayaanbudaya@gmail.com atau hardcopy ke alamat: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Kompleks Kemdikbud Gedung E Lantai 10. Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta PusatTelpon: (021) 5725047/5725564.
Hadiah Pemenang baik untuk kategori cerita rakyat untuk anak maupun cerita rakyat untuk umum yaitu:
Juara I sebesar Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah),
Juara II sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah),
Juara III sebesar Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah),
Harapan I sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah),
Harapan II sebesar Rp. 7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah),
Harapan III sebesar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah),
Enam hadiah hiburan masing-masing sebesar Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah).
Ketentuan Khusus:
1. Pajak hadiah ditanggung pemenang
2. Dua belas finalis dari dua kategori diundang ke Jakarta untuk wawancara
3. Karya 12 terbaik akan diterbitkan dalam Katalog Pemenang Lomba.
4. Tim Juri terdiri atas ahli dalam bidang tradisi lisan, akademisi, praktisi, media, dan bahasa.
Tahapan Kegiatan dan Jadwal
1. Publikasi Lomba Mei - Juni 2015
2. Pengiriman Naskah Juni – Agustus 2015
3. Seleksi Teknis Agustus 2015
4. Penilaian Naskah September 2015
5. Wawancara Finalis Oktober 2015
6. Pengumuman Pemenang dan Penyerahan Hadiah Oktober 2015
Pada waktu itu ane bingung mau pake cerita apaan. Nah, karena ane kebetulan menetap di kota Malang dan di Malang ada semacam tempat rekreasi alam yang namanya Coban Rondo maka ane putuskan buat bikin cerita tentang Legenda
Asal Muasal Coban Rondo. Ini bukti ane penah ngirim ke sana.... mencari-cari file lama,,,, percaya gk percaya sih... hehehehe... untuk cerita Legenda Asal Muasal Coban Rondo selengkapnya bakal di posting di postingan yang terpisah ya,,, biar gak campur aduk,,, hehehehe....
Subscribe to:
Posts (Atom)

