Saturday, October 31, 2015

BAPAKKU

http://www.studentschillout.com/wp/happy-birthday-messages-for-dad-from-daughter/

Aku memanggilnya "Bapak"
Yang marahnya adalah cinta kasihnya
Yang keringatnya menghidupi keluarganya
Yang tanggungjawabnya melindungi keutuhannya 

Aku memanggilnya "Bapak"
Kepala keluarga yang tak sempurna
Ia manusia biasa
Namun ia-lah penyempurna keluarga

Aku memanggilnya "Bapak"
Panggilan yang bagi sebagian orang terdengar ndeso
Aku memanggilnya "Bapak"
Panggilan yang paling istimewa bagi anak-anaknya

Aku memanggilnya "Bapak"
Yang diciptakan Tuhan untuk menjagaku
Aku memanggilnya "Bapak"
Yang dikirim Tuhan untuk membimbingku

Dia "Bapakku", Dia "Bapakku"

Monday, October 26, 2015

AKU BUKAN KUCING (Bagian 4)

Sesampainya di depan pintu rumah, Laurencia hanya duduk diam. Matanya berkaca-kaca. Hingga dia tidak menyadari jika ada orang lain di belakangnya.

"Ehem..." suara berdehem membuyarkan lamunannya. Kedua telinga mungilnya bergoyang. Laurencia berbalik.

google image
"Hai kucing kecil. Untuk apa kau kembali?" sapa seseorang yang terlihat tak asing sedang berdiri di hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Laurencia sambil tersenyum lebar. Laurencia membelalakkan matanya, jantungnya serasa melompat, mulutnya menganga lebar. Laurencia bertemu dengan Laurencia!

"Bagaimana bisa kau... aku... KEMBALIKAN TUBUHKU!!!" bentak Laurencia. Kejadian ini sangat mengguncang dirinya. Nafasnya tersengal.

"Apa!? Apa kau tidak salah bicara? Atau aku yang salah dengar? balasnya sembari mengorek telinga kanan dengan jentiknya lalu meniup serpihan kotoran yang menempel.

"Siapa kau sebenarnya?" Laurencia membentak.

"Aku? Aku Laurencia," balasnya santai. Jari telunjuknya menunjuk ke dada.

"Tidak! Laurencia adalah aku, bukan kau," tukasnya lantang.

"Itu tidak benar, tapi bukankah keadaan kita berbalik sekarang?" katanya sambil tersenyum sinis.

"APA!?" suara Laurencia meninggi.

"Sebenarnya namaku Lorenzo. Hihihihi...." Lorenzo terkikik geli. "Ah! bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" kata Lorenzo sambil menjentikkan tangan.

"Aku akan mengatakannya sekali, jadi perhatikan, dengarkan dan ingat baik-baik. Jika kau ingin tubuhmu kembali kau harus mengikuti sekolah perkucingan yang terletak di gorong-gorong tepat di di bawah jembatanpenyeberangan di mana kau menjatuhkanku seminggu yang lalu dan menjadi kucing peliharaanku. Itu karena kau harus melapor padaku apa saja yang telah kau pelajari. Kelas dimulai setiap jam 7 pagi hingga jam 4 sore setiap hari. Masa pelatihan adalah 30 hari, Jika kau bisa menjadi kucing dengan lulusan terbaik akau berjanji akan mengembalikanmu menjadi manusia," Lorenzo menjelaskan panjang lebar.

"Apa!? Ini tidak masuk ak..." Laurencia tiba-tiba menerima tendangan yang dilakukan Lorenzo dari samping kiri perutnya hingga terpelanting sejauh 5 meter. Laurencia terjatuh tepat di bawah ban mobil ibunya. Sedetik kemudian Agatha membuka pintu.

"Aku mendengar seseorang berbicara, aku kira ada tamu. Apa kau berbicara dengan seseorang?" Tanya Agatha sambil menengok ke kanan dan kiri.

"Tidak, aku hanya menyapa teman sekolahku," balas Lorenzo.

"Baikla kalau begitu,"

Agatha dan Lurencia masuk ke dalam rumah bersamaan. Laurencia hanya bisa melihatpemandangan tragis itu. Tiba-tiba Lorenzo membuka sedikit pintu rumah. Kepalanya menyembul ke luar. 

"Aku anggap kau setuju dengan perjanjian yang kubuat, bye..." katanya singkat, lalu membanting pintu. Terdengar suara "klik". Terkunci.

"AAAAAAAAAAAAAARGH. SIAL!!!" umpatnya.

Bersambung....

Ditulis oleh: Mia Insani

Saturday, October 24, 2015

AKU BUKAN KUCING (Bagian 3)

AKU BUKAN KUCING (Bagian 3)


Laurencia merasa sangat yakin bahwa apa yang dia alami saat ini gara-gara kucing hitam yang tak sengaja dia lemparkan dari jembatan penyeberangan hingga dia dikutuk menjadi kucing seperti ini. Dia merasa kucing hitam itu bertanggung jawab penuh atas kesialan yang menimpanya. Dia ingin kucing hitam mengembalikannya menjadi manusia kembali. Laurencia berusaha kucing hitam itu selama seminggu penuh. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada ibunya jika dia tidak pulang selama seminggu penuh. Mungkin ibunya sudah melaporkan kasus anak hilang ke kantor polisi atau mungkin ibunya senang bahwa dia sudah tidak perlu bersusah payah membesarkan seorang anak perempuan yang merepotkan atau... Laurencia tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selanjutnya semenjak dia pergi meninggalkan rumah hanya untuk mencari kucing hitam yang mengutuknya ke seluruh penjuru kota.  

Selama seminggu masa pencariannya, Laurencia banyak bertemu dengan beberapa kucing liar yang berusaha menyapanya karena keindahan matanya, kebersihan bulunya dan cara berjalannya yang anggun. Seperti yang dilakukan oleh seekor kucing jantan berwarna coklat-hitam yang berusaha menyapanya dari atas tong sampah.

"Hai, sayang!" Sapanya namun Laurencia tidak menggubrisnya sama sekali. Sikap Laurencia yang acuh membuat kucing coklat-hitam tersebut semakin penasaran dan segera menghadang Laurencia dari depan.

"Apa kau kucing baru di daerah sini? Kau terlihat cantik dan bersih. Apa kau di buang oleh majikanmu? Atau kau kabur dari rumah majikanmu?" Tanyanya.

"Apa kau buta? Aku bukan kucing seperti yang kau kira. Aku manusia! Jadi sekarang menyingkirlah dari hadapanku!" Tukasnya sinis.

Beberapa kucing menyapa dan bertanya pada Laurencia, namun selalu dijawab dengan jawaban dan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ada juga beberapa kucing jantan yang tertarik padanya menawarkan makanan sisa yang mereka dapatkan dari tong sampah, namun Laurencia selalu menolak dan menyatakan dengan sinis bahwa dia bukanlah manusia rendahan yang mau memakan makanan sisa yang sudah tak layak.

Selama Laurencia menjadi kucing, mau tak mau dia juka makan dan minum juga dari makanan sisa yang dibuang di tong sampah, hanya saja dia selalu memilih makanan sisa yang baru dibuang, yang tidak terlalu kotor dan tidak berbau busuk. Menurut kucing lar lainnya Laurencia adalah kucing betina yang munafik. Tersebar gosip jika ada kucing betina gila, sombong, munafik, dan suka mengaku sebagai manusia. Banyak kucing yang pada akhirnya mem-bully dan mengejeknya. Tak jarang Laurencia berkelahi, terutama dengan para kucng betina yang merasa terganggu akan kehadirannya. Laurencia tak tahan. Begitu berat hidup di jalanan yang tak satu pun berpihak padanya.

Laurencia merasa sedih dan sangat merindukan ibunya. Air matanya menetes. Dia membayangkan betapa sedih ibunya ketika anaknya tak kunjung pulang selama seminggu ini. Dia pun memutuskan untuk pulang sebentar sekedar untuk melihat keadaan ibunya.

Bersambung.....

Ditulis oleh: Mia Insani  

Friday, October 23, 2015

AKU BUKAN KUCING (Bagian 2)

AKU BUKAN KUCING (Bagian 2)


image by https://dorindaduclos.files.wordpress.com/2014/10/black-cat-closeup_opt.jpeg

Sesampainya Laurencia di depan pintu kamarnya yang bercat putih dengan hiasan yang terbuat dari kain flanel warna-warni bertuliskan L-A-U-R-E-N-C-I-A, di lantai dua rumahnya, tiba-tiba dia merasa pusing, bedannya terasa panas, tulang-tulangnya serasa melelh hingga dia tak sanggup berdiri. Selang beberapa menit, Laurencia merasa cukup baikan dan berusaha mengangkat tubuhnya untuk berdiri, lalu terdengar suara langkah kaki mendekat.

"ASTAGA!!! Kenapa bisa ada kucing di depan kamar? Sebaiknya segera kusingkirkan sebelum Laurencia datang. Bisa-bisa dia menyiksa kucing ini untuk yang kesekian kali!" celoteh Agatha, Ibu Laurencia yang terheran-heran. Mendengar ibunya berkata begitu Laurencia menoleh ke kanan dan ke kiri. Berjaga-jaga jika kucing hitam itu kembali mengikutinya lagi. Tapi tak dilihatanya seekor kucingpun di sana. Laurencia merasa ada yang aneh, kenapa dia hanya melihat kaki ibunya? lalu Laurencia mendongak, kenapa ibunya terlihat sangat tinggi sekali? Lalu tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terangkat tinggi dan seperti ada sesuatu yang menyakiti tengkuknya. Laurencia merasakan seperti ada sesuatu yang menjepit tengkuknya.

Laurencia melihat ke sekeliling dengan sudut pandang yang berbeda sambil sedikit meronta-ronta. Semua barang-baran di rumahnya terlihat lebih besar dari biasanya. Tubuhnya melayang. Sesampainya di halaman depan rumah yang dipenuhi dengan rumput hijau nan segar, Agatha menurunkan Laurencia. Laurencia membalikkan tubuhnya dan mendongak. Menatap raut wajah lembut ibunya yang sedang berjongkok di hadapannya. Membelai kepalanya.

"Ibu apa yang terjadi?" Kenapa kau membawaku ke sini?" protes Laurencia. "Aku merasa ada hal yang aneh di sini, Bu!" tambahnya. Laurencia belum menyadari keadaannya. Agatha tersenyum kecil melihat kucing hitam yang sedang mengeong padanya.

"Sebaiknya kau jangan datang kemari lagi kucing manis," Agatha berkata lembut, mengelus punggung Laurencia, segera masuk dan mengunci pintu.

"APA!!!" Apa maksud Ibu dengan 'kucing manis'? Aku Laurencia, Bu. Aku anak Ibu." Laurencia memangil-manggil ibunya. Laurencia berusaha membuka pintu depan rumah, mengetuknya, mencakarnya.

Laurencia terdiam sejenak. Seketika jantungnya berdegup sangat kencang, dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang. Dia merasa ada yang salah pada dirinya saat ini. Laurencia tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Tangannya bukanlah tangan manusia. Laurencia menoleh ke bawah. Kaki depan kucing hitam yang dilihatnya. "Tidak mungkin," gumamnya. 

Laurencia berlari menuju depan mobil sedan putih milik ibunya yang terparkir tepat di depan rumahnya. Mobil itu terasa sangat tinggi baginya. Lalu dia mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, berlari sekencang-kencangnya dan "Hap" dia berhasil melompat. Dilihatnya bayangan yang terpantul di kaca depan mobil ibunya. Dilihatnya lekat-lekat. Terpantul sosok seekor kucing hitam legam dengan mata berwarna kuning keemasan. Laurencia meraba wajahnya dengan kaki kucing kanannya. Dia merasakan wajahnya berbulu, berkumis dan moncongnya sejajar dengan hidungnya.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK"

Bersambung....

Ditulis oleh Mia Insani

AKU BUKAN KUCING (Bagian 1)

Ini adalah cerpen yang pernah aku buat saat mata kuliah Creative Writing (S1, FIB, UB) yang diampu oleh Pak Dosen yang bernama Pak Yusri Fajar mungkin sekitar tahun 2013 semester 4 atau 5 (aku lupa) heheheee,,, file yang asli sudah hilang (hilang saat rumahku kemalingan, original softcopy-nya ada di laptop yang di bawa si maling),, So, mumpung aku nemu draft hardcopy-nya (yang ada coretan2 revisinya dari bapak dosen) jadi aku memutuskan untuk menuliskannya kembali di sini,,,, oh ya, dalam cerpenku masih terdapat kelemahan dalam menuliskan deskripsi setting dan perawakan tokoh secara detail. Namun dalam otakku, ada gambaran detail yang cukup jelas mengenai setting dan perawakan tokohnya, hanya saja menuliskannya secara detail itu cukup sulit (masih perlu latihan nulis nie), andai aku bisa menggambar, akan langsung aku gambar deh, kayak komik gt T-T" tp ya sudahlah... check it out!!! 


AKU BUKAN KUCING



image by https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/a2/62/5d/a2625df6d1b8ae60a01ab5c20c029ab9.jpg

Pukul 4 sore tepat, Laurencia seorang berjalan pulang dengan muka masam sambil mendekapkan tangannya ke dada. Laurencia menyadari bahwa dia sedang diikuti oleh seekor kucing jantan hitam legam yang lusuh. Dia berfikir, begitu banyak pengguna jalan di trotoar ini, tapi mengapa kucing itu hanya mengikuti dia saja sejak dari pintu gerbang sekolah? Ya, Laurencia tidaklah seperti gadis remaja 18 tahun yang menganggap kucing adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling imut, lucu dan menggemaskan. Laurencia sangat membenci kucing. Bukan karena takut atau pernah mengalami traumatic experience, dia tidak suka kucing karena menurutnya wajah kucing adalah wajah binatang yang paling menyebalkan, betapapun lucu, imut dan menggemaskannya kucing itu. Dia juga tak ingin tertular virus berbahaya seperti Toxoplasma. Laurencia merasa kucing adalah hewan jorok dan menjijikkan yang bisa menularkan virus tersebut.

Laurencia adalah gadis yang tidak segan-segan menendang, memukul, atau melemparkan kucing dari ketinggian. Sebenarnya, Laurencia seorang gadis yang ceria, baik dan penyayang. Nanum sifat itu lenyap seketika saat dia berhadapan dengan "kucing". Seakan memiliki kepribadian ganda, Laurencia menjadi seseorang yang sangat tidak bersahabat terhadap kucing. Apa lagi saat ini di belakangnya, dia sedang diikuti oleh seekor kucing hitam yang masih mengikutinya hingga dia tiba depan tangga jembatan penyebrangan. Laurencia menarik nafas dalam-dalam, berbalik ke arah kucing itu.

"Baiklah kalau itu maumu," katanya dengan nada jengkel. Laurencia perlahan-lahan mendekati kucing itu dan menggendongnya menaiki jembatan penyeberangan yang pada saat itu tak banyak orang berlalu-lalang. Kucing itu menurut saja tanpa perlawanan.

Sesampainya di atas, Laurencia sedikit melongok ke bawah. Jalanan cukup ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Laurencia perlahan menjulurkan tangannya melewati pagar pembatas sembari menggendong kucing hitam itu. Laurencia menatap wajah kucing itu. Memperhatikannya secara seksama sejenak. Hitam legam, lusuh, sedikit berbau sampah, dengan mata biru safir yang cukup indah menurutnya. Lalu seketika muncul niat Laurencia untuk menjatuhkan kucing itu dari atas jembatan.

"Aku rasa nyalimu cukup besar untuk mengikutiku. Kau akan tahu akibatnya jika kau berani mengikutiku lagi, Kucing Bodoh!!!" Ancam Laurencia.

"Kalau kau memang berani lakukan saja, Gadis Tolol!!!" kucing hitam itu tiba-tiba berbicara. Laurencia sangat terkejut hingga tanpa sengaja dia benar-benar menjatuhkan kucing itu dari atas jembatan penyeberangan. Dia melangkah mundur lalu terduduk lemas.

Laurencia terdiam dan tercengang beberapa saat. Dia segera berdiri dan melongok ke bawah untuk memeriksa keadaan kucing itu. "Apa kucing itu mati terlindas?" tanyanya pada diri sendiri. Laurencia matanya membelalak, bibirnya menganga, jantungnya berdegup kencang, wajahnya sedikit pucat, keringat dingin tiba-tiba menetes dari dahinya. Kucing itu hilang. Tak ada tanda-tanda kucing terlindas atau bercak darah sekalipun. Jalanan terlihat bersih tanpa noda atau pengendara yang tiba-tiba menghentikan kendaraannya dan membuat sedikit kekacauan karena telah melindas seekor kucing.  

"Mustahil" katanya lirih. Laurencia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia melihat kucing itu sudah berada di trotoar. Laurencia ketakutan. Dia berlari kencang, menjauh.

Bersambung....

Ditulis oleh: Mia Insani




Wednesday, October 21, 2015

PENGALAMAN PERTAMA NGAJAR ANAK2

http://i.huffpost.com/gen/1331818/images/o-ELEMENTARY-SCHOOL-TEACHER-facebook.jpg
Dear Bloggy,
Sebulan yang lalu, aku mendapatkan tugas untuk mengajar anak-anak kecil di masjid perumahan tempat tinggalku. Sebelum aku mulai mengajar sudah ada program belajar mengaji untuk mereka semua. Aaaaah, aku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa mengajar mereka dengan baik, menyenangkan dan membuat mereka tertarik akan bahasa inggris. Ide mengajar mereka berasal dari Bapakku yang juga disetujui oleh para tetanggaku. Beliau berpikir dari pada aku hanya menganggur di rumah saja karena masa studiku yang belum usai. Ah, tahun ini, 2015, adalah semester pertamaku menjalani perkuliahan program Magister di FIA, jurusan Manajemen Pendidikan Tinggi. 
Kembali pada topik awal, Akupun menyetujui apa yang diusulkan oleh Bapakku. aku mulai mengajar pada tanggal 20 Oktober setiap hari Selasa (untuk putri) dan rabu (untuk putra). 2 minggu sebelum aku mengajar aku melakukan observasi mungkin sekitar 3x aku datang. Aku ingin melihat bagaimana perangai mereka, sifat mereka, perilaku mereka dan berapa banyak anak-anak yang mengikuti kelas mengaji. karena berdasarkan informasi yang aku terima dari koordinator (Tetangga) ada sekitar 25 anak. Namun, pada kenyatannya, hanya segelintir saja yang datang. Mungkin hanya sekitar kurang dari sama dengan 10-12 orang saja yang datang mengaji. Mereka terdiri dari berbagai umur dan riwayat pendidikan, belum sekolah, kelas 1, 2, 3, dan 5. 

Awalnya aku cukup khawatir apakah aku sudah cukup baik untuk mengajarkan bahasa ingris kepada mereka. Ya, aku tau kelemahanku sendiri dalam berbahasa inggris. GRAMMAR. akupun berusaha mencari referensi melalui internet dan mempelajarinya lagi. aku tidak ingin memberi ilmu yang salah kepada mereka. Aku juga tidak ingin dianggap sebagai guru yang tidak becus, walaupun pada kenyataannya "ya, aku emmang tidak becus".

Untungnya saat hari kedua aku melakukan observasi dan menanyakan sampai mana mereka belajar bahasa inggris, sejauh ini mereka sudah sampai pada Simple Past Tense dan cara membaca waktu dalam bahasa inggris. aku pun berusaha mencari tahu lewat internet, ya, aku mulai belajar kembali. aku berharap apa yang aku sampaikan nanti mudah dipahami oleh mereka dan mereka senang akan metode belajar bahasa inggris yang aku lakukan. Ini adalah pengalaman pertamaku mengajar "dasar amatir." aaah, bukan bermaksud pamer tp aku dibayar dengan "Pahala" 

Aku juga berusaha menggali informasi dari teman-temanku sebagai pengajar anak-anak. Gampang-gampang susah memang. Jangan terlalu sering mengatakan ini "salah", "tidak" dan "bukan" harus ada opsi lain untuk mengatakan bahwa apa yang mereka tebak kurang tepat seperti "coba lagi", "ingat lagi", "ada opsi lain?" dan pada akhirnya q hanya mengekspresikan wajahku saja sambil berkata "hayo tadi apa hayo"? baiklah, ini adalah pengalaman pertamaku.

Aaah, di hari pertama aku mengajar "5 little girls" yang terdiri dari 3 orang kelas 1, 1 orang kelas 3, dan 1 orang belum sekolah.  Mereka masih belajar ABC memang, tapi mereka sudah cukup bisa walaupun terkadang masih sering lupa jika diberi tebakan ABC. Untuk gadis kecil yang duduk di bangku kelas 3, sudah dipastikan dia lebih mahir dari yang lainnya. 

Metode belajar di hari pertamaku adalah mengajar ABC, menyanyikan lagu ABC dalam bahasa inggris dan memperlihatkan video lagu bahasa inggris anak-anak dari HP ku dan memberi mereka tebakan mengenai ABC, salam selamat pagi/siang/sore/malam menggunakan gambar yang sengaja aku laminating. Mereka sangat senang dan cepat menangkap apa yang aku ajarkan karena menurut informasi yang aku dapat, sekolah mereka sudah mengajarkan hal itu.

Hari kedua, waktunya aku mengajar "little boys" ternyata hanya satu orang yang datang. dia kelas lima. Aku menawarkan materi yang dia merasa kesulitan. dia bilang mengenai "Jam" bagaimana cara membaca jam dalam bahasa inggris. Aku sempat kaget mendengarnya. Kau tahu, topik itu adalah topik yang hingga bertahn-tahun q masih belum bisa emmahaminya, hingga sekitar 2 atau 3 hari yang lalu q beruntung telah mempelajarinya dan telah mengerti apa maksudnya. tidak sekedar menghafal seperti apa yang pernah aku lakukan dulu, tapi q sudah memahaminya. Namun q belum mencetak materinya. Untungnya aku telah memotret materi mengenai "Telling the Time" sebelumnya. dan membacanya sekilas dan aku cukup cepat memahinya walaupun agak sulit untuk menjelaskannya kepada satu muridku itu. aku berharap ia benar-benar paham dengan apa yang aku ajarkan. 

Setelah itu, datanglah salah satu anak laki-laki kecil paling nakal dengan perawakan kecil seperti anak SD kelas 1. sempat aku bertanya padanya dan dia menjawab bahwa dia sudah kelas 3. aku sangat tidak percaya, tapi teman-temannya (mereka hanya datang untuk bermain tidak belajar bahasa inggris ataupun mengaji) bilang bahwa ia sudah kelas 3. Lalu aku mengujinya dengan membaca ABC, dan cukup mencengangkan bahwa dia sama sekali belum bisa membaca ABC dalam bahasa inggris. Kau tahu, mungkin karena murid-murid perempuanku sebelumnya sudah bisa sehingga aku memberikan 3 materi sekaligus dalam satu jam dan mereka dengan cepat menangkan apa yang aku ajarkan padahal mereka masih kelas 1 sehingga aku sangat kaget saat mengetahui dia sama sekali belum bisa membaca ABC dalam bahasa inggris. Lalu aku teringat akan cerita salah satu sahabatku Izza, yang seorang guru di salah satu les-lesan di Malang saat ini, dia mengatakan bahwa setiap anak memiliki kemampuan daya tangkap yang berbeda-beda, ada yang lambat ada yang cepat, sifat mereka juga cukup beragam, pandai-pandai kita sebagai gurunya untuk bisa mengajarkan mereka materi bahasa inggris sampai dia/mereka memahaminya. 

Ya, di hari kedua muridku hanya 2 orang saja. aku agak kecewa namun juga lega karena aku bisa mengajarkan si anak kelas 5 ini tentang cara membaca waktu dalam bahasa inggris mengenai Half Past,,, dan Quarter Past... dan Quarter to.... cukup sulit memang, karena dia sama sekali belum tahu bahwa 1 jam = 60 menit. sehingga untuk mengajarkan kata Half = setengah = 30 menit atau Quarter = seperempat = 15 menit dan mengajarkannya cara berhitung pembagian terlebih dahulu. Cukup lama aku bergulat dengan itu, dan pada akhirnya dia mulai sedikit memahami Half Past,,, yang artinya lewat setengah yang artinya lewat setengah jam = 30 menit....  aku memberinya soal dan hasilnya cukup walaupun masih tertatih-tatih. aku melihat dia sangat bersungguh-sungguh walaupun sedikit nakal. tapi aku melihat potensinya untuk menjadi anak yang cerdas, tangguh, tegas dan bertanggung jawab tapi aku tidak bisa menentukan secara pasti bagaimana nantinya ia kelak. tapi dia sangat bersemangat,,, ak harap aku bisa menjadi guru yang baik dan tidak menyesatkan murid-murid dengan informai yang aku berikan. AAAAMIIIIIIIIN.....

Aaaah, tapi aku rasa aku lebih suka mengajar dengan jumah murid yang sedikit, karena aku bisa mengajarkan materi lebih maksimal.... karena berdasarkan pengalaman sahabatku si Izza, mengajar dengan jumlah anak yang banyak itu cukup sulit dan melelahkan karena mereka bakal nggak bisa fokus. yaaaah, taulah tingkah anak-anak...


 Sekian, Terimakasih... heheheeeee :D :D :D


Saturday, October 10, 2015

Mr. Brown Eyes

 http://www.ocularistemfclermont.com/en/images/cyevfnbqo5_4c56f755_7ea6_01cd_64db_b70db958b12f.jpg


Dear Mr. Brown Eyes
Your silhouette is flying around in my mind
Trying to shoo it like flies
Make sure I would be fine

Such a crazy thing
You are who I'm thinking
Imagination make you as a king
Then love song what I sing

Where on this earth you could be?
You are the one and only sweet bee
Would be the one and only for me
Hope GOD on the side of me
You and I become Us, become We

Thursday, October 8, 2015

Dear Mr. Words

 http://jeffhester.net/wp-content/uploads/2010/12/words-1.jpg

Dear Mr. Words, I wanna confide to you
I'm tired and blue
But I have to shoot straight
Floating in big wave to meet the bright
Wanna drive for a hundred miles
Seeing your brightest smile
Even just for a while
It works losing my burden life
My heart little bit dry inside
Even I pouring it with the brightest water
I need a reason to be closer to you
Where you're less surrounded
Satisfied myself staring at you





Sunday, October 4, 2015

Merindukan Hujan

 https://helloyulindaes.files.wordpress.com/2014/12/menunggu-hujan.jpg

Berharap hujan segera datang
Jatuh menerbangkan aroma segar tanah nan rupawan
Butirannya berirama syahdu penuh kenangan
Melayangkan sejuta angan terpendam

Berharap hujan segera datang
Membawa kesejukan di sekujur tubuhku
Butirannya menusuk di sela-sela kulitku
Namun hujan tidak melukaiku

Berharap hujan segera datang
Karena aku merindukan hujan
Merindukan air yang bergelimang
Yang terkadang membuatku kesal

Berharap hujan segera datang
Karena ia serta merta membawa kehidupan
Walau terkadang ia membawa bencana
Aku tahu semua salah manusia

Aku merindukanmu, hujan....

Keinginan Sebelum Kiamat




image by http://www.kwikku.com/images/article/junior196720150330114015.jpg


Aku ingin mati sebelum kiamat
Bukankah seburuk-buruk umat adalah umat yang mati di hari akhir?
Egois memang, namun aku sudah muak dengan peperangan dunia fana
Muak dengan para pendusta negara dan dunia

Aku ingin mati sebelum kiamat
Meninggalkan hingar bingar fana
Meninggalkan kepuasan dunia
Pergi menuju sang abadi

Aku tak siap mati, tapi aku juga siap dijemput ajal
Aku pun tak luput dari lumuran dosa-dosa
Hingga aku pun berpikir...
Cukupkah amalku menuntunku ke Surga-Nya?
Sudah pantaskah aku menuju ke Surga-Nya?

Aku ingin mati sebelum kiamat
Dimana semua belumlah terlambat
Aku ingin mati sebelum kiamat
Mati dalam keadaan Islam dan Khusnul Khatimah