Friday, December 11, 2015

What am I?


What am I?
Human being who has too much flaws
What am I?
A small piece of life
What am I?
A huge hunk of dummy
What am I?
A drop of hope
What am I?
A deep scar of someone else
What am I?
A sparkling silly girl
What am I?
A human in the cross-road of bad and good
What am I?
A girl who has bad and good sides
What am I?
A girl who is waiting for eternity,,,,,,,,
In the sky in peace,,,,,

Wednesday, December 9, 2015

Take me instead, Time!

http://who-are.ru/pics/time-management.jpg

They're getting older and older
Every single day to be stronger and stronger
Yet, every minute also make them weaker and weaker
Every second, I want to be closer and closer

Time is running so fast, very precious for us
Good and bad also with us
I wanna stop the time for us
Stand still, never change about us

Unexpected future waiting for us
I know there will be a period, that the time take one of us
Think it'll be nice if I'll be the first one
Coz I'm definitely unable to see them as the first one


Waiting???

Google image

Where are you roaming?
You've been wandering too long
I've been waiting for your coming
I've been being accompanied by mellow song

Knowing you eager to reach your biggest dream
Don't wanna be the one into the grim
Believing future be like a sweet cream
Coming back with a beautiful fate you bring


Tuesday, December 8, 2015

The Thief

google image

You are the thief
Never let me in peace
My Heart is pounding whenever we meet
You are the one I miss

You are the thief
Bring the warm into the breeze
Rushing of to me my thief
Let's create many sweets memories

Oh, you are the thief
Not an ordinary thief
Let's stole the heart of each other, thief
That's all I wish, thief


AKU BUKAN KUCING (Bagian Akhir)

google image

Sayup-sayup terdengar suara erangan mobil yang semakin lama semakin jelas. Laurencia membuka matanya perlahan. Mengernyitkan dahinya. Cahaya menyilaukan matanya. Begitu dia bisa melihat dengan jelas, dia melihat kesekelilingnya. Dia melihat pagar putih lusuh merentang dari sisi kanan, kiri dan depannya. Laurencia masih berada di atas jembatan penyebrangan. Duduk bersandar. Melihat kedua tangannya yang tak lagi bercakar. Meraba wajahnya yang tak lagi bermoncong, berbulu dan berkumis. Laurencia berdiri, menampar pipi kanannya.

"Aaaau, sakit," Laurencia mengusap pipinya yang memerah sambil berjalan ke depan dan melongok ke bawah jembatan. Ada kucing hitam melihatnya dari trotoar. Dia sedang duduk sambil menghadap ke atas. Laurencia memicingkan matanya. "Lorenzo" bisiknya dalam hati. 

Lorenzo dan Laurencia saling pandang beberapa saat. Lorenzo perlahan berbalik pergi sambil mengibaskan ekornya. Laurencia bergegas lari menuju Lorenzo. Terlambat, Lorenzo telah pergi.

Laurencia bernapas lega.

TAMAT

Ditulis oleh: Mia Insani

AKU BUKAN KUCING (Bagian 7)

Laurencia sama sekali tak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. dia berpikir keras di tengah kekalutan yang mendera dirinya. Marah, khawatir, takut, sedih dan bingung bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana mungkin apa yang dia lakukan selama ini akan berakhir sia-sia.  Lorenzo tidak ingin menjadi kucing kembali dengan alasan kenyamanan, kesenangan dan kemudahan. Dia benar-benar harus memutar otaknya untuk membujuk Lorenzo.

Waktu menunjukkan pukul 11.50 malam. Laurencia teringat bahwa dari tubuh Lorenzo akan keluar ekor panjang yang bersinar setiap tengah malam. Mungkin ini semua ada kaitannya. Dengan perasaan was-was, takut sekaligus penasaran, laurencia menunggu dengan sabar keluarnya ekor itu. 10 menit entah kenapa serasa seperti satu jam baginya. Ketika ekor itu muncul, Laurencia segera melompat sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Meleset. Ekor itu bergerak dengan cepat dan justru menampik serangan Laurencia dari arah samping dengan keras. Laurencia terjungkal menatap tembok.

"Kau Lancang!!!" bentak Lorenzo marah. Lorenzo telah tepat berada di hadapan laurencia yang terbaring di lantai. Sorot mata Lorenzo tak seperti biasa. Dia memandang Laurencia dengan sorot mata yang tajam.

"Kembalikan tubuhku," rintih Laurencia sambil mencoba untuk berdiri meskipun tertatih.

"Tidak!!!" bentak Lorenzo.

"Kenapa kau lakukan ini padaku,"

"Itu karena kau sering memperlakukan kucing dengan tidak semestinya. Kau memukul, menendang, dan bahkan kau pernah ingin membunuhku dengan menjatuhkanku dari atas jembatan penyebrangan. Aku ingin kau merasakan apa yang kucing-kucing malang itu rasakan." Laurencia mengangkat tubuh Laurencia dengan ekornya dan melemparkannya keluar jendela. Terdengar suara pecahan kaca. Laurencia terjatuh di halaman depan rumah. Lorenzo melompat turun dari lantai 2.


google image


Mereka berdua berhadapan. Entah kenapa Laurencia merasa bahwa ekor tersebut bisa mengembalikannya menjadi manusia. Laurencia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan 5 menit yang berharga ini. Walau selalu gagal dan terbanting berkali-kali. Laurencia tak menyerah.

"Matilah kau!" Lorenzo menyeringai, ekornya mencekik leher Laurencia. Laurencia tank ingin mati konyol. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa, dia mencengkeram ekor Lorenzo dengan cakar dari kedua kaki depannya. Laurencia mencengkeram sekuat tenaga hingga ekor itu mengeluarkan darah segar. Cekikan melemah beriringan dengan suara pekikan kesakitan dari Lorenzo. Lorenzo menghantamkan ekornya ke tanah beberapa kali agar terlepas dari cengkeraman Laurencia. Namun cengekeraman itu tak melemah sedikitpun. Laurencia bahkan menggigit ekor tersebut hingga terputus.

Terdengar suara teriakan dari Lorenzo. Lalu semua terlihat gelap.

Bersambung,,,,

Ditulis oleh: Mia Insani

AKU BUKAN KUCING (Bagian 6)

Hari ke-30 tiba. Saatnya pengumuman hasil jerih payah Laurencia belajar di sekolah perkucingan. Laurencia terpilih menjadi lulusan terbaik. Bukan main senangnya dia. Walaupun kucing lain tak ada yang memberi selamat, Laurencia tetap berbahagia karena tak lama lagi dia akan terbebas dari kutukan ini. Dia bersenandung gembira sepanjang hari. Pukul 8 malam, Laurencia melapokan hal membahagiakan ini kepada Lorenzo. Ya. dia pulang terlambat hari itu. 

"Jadi, sekaranglah saatnya kau mengembalikanku sebagai manusia, bukankah aku sudah menepati janji yang telah kita sepakati." tagih Laurencia kepada Lorenzo.

"Kenapa harus? Aku nyaman menjadi Laurencia. Kehidupan menjadi manusia sungguh menyenangkan dan mudah. Lagi pula, bukankah kau sudah terbiasa menjalani kehidupan sebagai seekor kucing?" Pernyataan yang dilontarkan Lorenzo membuat alurencia tercengang. 

"Apa maksudmu berkata seperti itu!? Kembalikan tubuhku sekarang juga!!!" tukas Lurencia tegas dan geram.

"Aku tidak mau," jawab Lorenzo santai di kursi belajar sambil menyandarkan kepala di kedua tangannya yang terpaut.

google image

"APA!!!???" Larencia tak habis pikir.

"Haaaaaaaaaa..." aku malas bicara denganmu. Aku mau tidur saja. sebaiknya kau juga tidur kucing jelek," Lorenzo membanting tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. Laurencia yang kebingungan memohon-mohon pada LOrenzo yang sedang santai berbaring. Air matanya deras mengalir. Dia merasa sangat sedih, bingung dan ketakutan jika Lorenzo benar-benar tidak mau mengembalikannya menjadi manusia. Dia tidak ingin terjebak dalam tubuh kucing selamanya. Laurencia pun mencakar lengan kanan Lorenzo sebagai bentuk protes terhadapnya.

"Kucing kurang ajar!!! berani sekali kau mencakarku." katanya sambil menghempaskan tangan dan memebuat Lurencia terbanting. 

"Tapi tak apa,,, lagi pula kau hanyalah kucing kecil yang lemah." Lorenzo mengelus bekas cakaran Laurencia. Luka itu seketika menghilang tak berbekas. 

"Sebagai balasannya, kau akan selamanya menjadi kucing." Lorenzo pun menarik selimut dan tertidur. Laurencia hanya bisa tertegun dan merasa tak ada harapan lagi baginya.


Bersambung,,,,,,

Ditulis oleh: Mia Insani

AKU BUKAN KUCING (Bagian 5)

Mau tak mau, setiap pagi Laurencia harus mengikuti kelas perkucingan di gorong-gorong yang gelap. bau dan becek. apa yang diajarkan di sana benar-benar tidak masuk akal baginya. mulai dari cara membersihkan diri dengan menjilati seluruh bagian tubuh, buang air sembarangan sebagai penanda wilayah kekuasaan, cara mencuri makanan, mencari makan di tong sampah, guna ekor kucing sebagai alat keseimbangan, kuna kumis sebagai penanda apakah tubuh kita cukup untuk bisa masuk ke dalam tempat-tempat sempit atau tidak, guna cakar kucing sebagai alat kita memanjat, bertarung dan menangkap mangsa dan pelajaran yang menurut Laurencia adalah hal yang paling bodoh adalah bagaimana mencari pasangan. satu hal lagi, di sekolah perkucingan, Laurencia sama sekali tidak memiliki teman.

Tidak hanya itu saja, Laurencia harus melaporkan apa saja yang telah dia pelajari di kelas perkucingan kepada Lorenzo di kamar Laurencia atau lebih tepatnya menjadi kamar Lorenzo sekarang. Ibu laurencia sama sekali tak menyadari jika ada kucing di dalam kamar Laurencia. Ya, Lorenzo selalu membawa Laurencia dari jembatan penyebrangan setiap pulang sekolah dengan memasukkannya ke dalam tas. Selain itu, Laurencia juga harus mengerjakan PR yang Lorenzo dapatkan dari sekolah setelah dia melaporkan kegiatannya di sekolah perkucingan kepada Lorenzo. Setelah itu, Laurencia akan tetap tinggal di kamar dan tidur di bawah kolong kasurnya. Hal ini sudah berlangsung selama 25 hari. Laurencia terpaksa harus menjalani penderitaan ini demi bisa kembali ke wujud manusianya.

 https://felids.files.wordpress.com/2012/10/deannas-panther-adj.jpg
Tengah malam tepat, yaitu pada hari ke 26, Laurencia terbangun untuk pergi ke toilet. Tak disangka, Laurencia melihat hal yang sangat mengejutkan. Laurencia melihat ekor hitam panjang berkibas-kibas dan bersinar kebiru-biruan muncul dari bagian tulang ekor tubuh Lorenzo yang sedang tidur dengan posisi miring ke kanan, Laurencia memerhatikan sekitar 5 menit lamanya. Sinarnya meredup dan ekor itu pun menghilang.

Keesokan paginya, Laurencia tak mengatakan apa pun tentang kejadian itu kepada Lorenzo. Laurencia selalu terjaga saat tengah malam selama tiga hari. Ia hanya mulai paham bahwa ekor tersebut hanya muncul saat tengah malam selama 5 menit, namun ia tidak tahu apa kegunaan ekor yang bersinar tersebut. Ia hanya menyimpan tanda tanya besar untuk dirinya sendiri. Ia tidak terlalu peduli.

Bersambung,,,,

Ditulis oleh: Mia Insani