Wednesday, July 22, 2020

Sudah Menikah Dianggap Sebagai Tolak Ukur Kebahagiaan dan Kesuksesan

Di sini saya ingin membahas suatu fenomena masyarakat +62 yang sering mengaitkan pernikahan sebagai wujud dari sebuah kebahagiaan dan kesuksesan.

Di sini saya masih JOMBLO, jadi jujur saja saya memposisikan diri saya sebagai pengamat pernikahan yg telah dialami oleh orang2 terdekat saya,,,

Banyak dari orang2 terdekat selalu bertanya kapan nikah? Atau menyindir kami2 yg masih jomblo pdhal ud kerja dan berumur juga seperti ini: truk aja gandengan kok situ masih sendiri aja? Atau kadang mereka bilang jangan ketinggian standardnya nanti takut dia sama kamu gak bisa ngopeni! (Mnrt pendapat saya standard masg2 org tdk bisa disamakan, itulah mengapa anda2 sekalian para lelaki yg mengatakan hal tsb atau suami2 kalian TIDAK ditakdirkan oleh TUHAN berjodoh dg saya, krn kuatnya ngopeninya y standard anda atau istri2 anda sekalian,,, heheheheee,,,) Ada juga yang bilang rabi iku enak loh! (Enak dr sisi mana gk dijelasin scr gamblang ma orangnya kan ane sbg jomblo jd bingung 😅)

Alkhamdulillah saya berasal dari keluarga yang bisa dikatakan utuh, untuk saat ini ketika saya menulis postingan ini, pernikahan ortu saya sdh berjalan 27 tahun dan sudah melewati berbagai macam rintangan dan bertahan sampai sekarang.

Jujur saja zaya melihat dan mengamati berbagai fenomena kehidupan rumah tangga yang kompleks. Saya tdk mengalaminya sendiri, y kan ane JOMBLO. Saya hanya pengamat kehidupan pernikahan ortu saya, saudara2 saya, embah saya dan teman saya.

Saya melihat dan belajar, bahwa tak semua kehidupan pernikahan itu Happily Ever After  seperti dongeng. Atau bisa bertahan rukun sampai ajal memisahkan. Ternyata banyak bumbu kehidupan yg harus dihadapi.

Ada yang pernikahannya KDRT, ada yg Selingkuh dan Diselingkuhi, atau karena Faktor Ekonomi,,, lalu apakah mereka bahagia? BIG NO FOR THEM , akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai demi tidak saling menyakiti, walaupun beberapa tetap bertahan dg rasa kesabaran yang tinggi dan perasaan sakit hati yg amat dalam sampai akhir hayat dan baru keluar unek2nya pas mau meninggal,,, 

Contoh kasus:
1. Ayahnya selingkuh, anak gak ada yg tahu, yg tahu istrinya doank, dan sabar bgt menghadapi suaminya, dan mereka ttp bersama sampai keduanya meninggal, tapi si anak gak ada yg tahu, tahunya ketika tanpa sengaja d jalan melihat sosok org yg mirip wajahnya sama dia, setelah saling sapa dan ngobrol2 baru dan mencocokkan bbrp data, eh baru tahu kalau punya saudara tiri pdhl si anak ud berusia 40 tahunan waktu itu, shock pasti iya,,, 

2. Ada jg yang justru msh sabar menghadapi KDRT suaminya sembari diselingkuhin jg krn si istri gak kerja, takut anaknya gk bs makan n sekolah krn tulang punggung adlh suaminya dan baru berakhir ketika si suami meninggal,,, 

3. Ada juga yg uda dihamilin dluan, nikah, ekonomi terpuruk dan ditinggal minggat begitu saja sama si suami,,, 

4. Ada juga org menikah si istri cuma dikasi uang bulanan aja tapi gak ada komunikasi sama sekali, dan LDR pula, jujur si istri akhirnya cari yg lain loh,,,

5. Ada juga yg bercerai setelah 3 bulan menikah krn suami melakukan KDRT

6. Dan kasus2 lain yg malas saya sebutkan 1 per satu karena uda capek ngetik

Dengan kasus2 tersebut apakah pernikahan itu bisa kita anggap sebagai tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan manusia? Saya rasa tidak juga,,, menurut saya, ketika kita tidak bahagia dalam kehidupan pernikahan, sehingga kita memutuskan bercerai atau memutuskan memendam kesedihan, amarah dan kejengkelan atas perlakuan pasangan kita tanpa berbuat apa2 sampai akhir hayat seperti itu (ya intinya menderita sendiri) maka menurut saya kehidupan pernikahan itu tdklah bisa dikatakan sukses dan bahagia. 

Kerena menurut saya tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan bukan dilihat dr status pernikahan seseorang,,, pendapat pribadi saya sebagai JOMBLO yg belum menikah, kebahagiaan dan kesuksesan saat ini adalah ketika Lahir dan Batin terpenuhi kebutuhannya walaupun belum menikah,,

1. Keluarga yg rukun (ebes n emes rukun, keluarga gak berkasus yg aneh2)
2. Kebutuhan hidup sandang, pangan, papan, pendidikan, rohani terpenuhi
3. Lingkungan yang tidak membuat mental health saya terganggu
4. Kantong gak pernah kering alias BANYAK DUIT
5. Bisa beli apapun yang saya mau sesuai kantong tanpa harus kredit atau berhutang k orang lain
6. Kalaupun suatu hari saya menikah,,, saya baru berani mengatakan saya sukses dan bahagia ketika pernikahan kami tetap utuh sampai ajal menjemput dengan tanpa ada kasus2 yang membuat anggota keluarga kami mengalami hal2 yg tidak mengenakkan, menderita dan saling bermusuhan,,, 
7. Tercukupinya kebutuhan lahir dan batin anggota keluarga.

Sekian unek2 saya hari ini,,, 😊😊😊