Ini adalah cerpen yang pernah aku buat saat mata kuliah Creative Writing (S1, FIB, UB) yang diampu oleh Pak Dosen yang bernama Pak Yusri Fajar mungkin sekitar tahun 2013 semester 4 atau 5 (aku lupa) heheheee,,, file yang asli sudah hilang (hilang saat rumahku kemalingan, original softcopy-nya ada di laptop yang di bawa si maling),, So, mumpung aku nemu draft hardcopy-nya (yang ada coretan2 revisinya dari bapak dosen) jadi aku memutuskan untuk menuliskannya kembali di sini,,,, oh ya, dalam cerpenku masih terdapat kelemahan dalam menuliskan deskripsi setting dan perawakan tokoh secara detail. Namun dalam otakku, ada gambaran detail yang cukup jelas mengenai setting dan perawakan tokohnya, hanya saja menuliskannya secara detail itu cukup sulit (masih perlu latihan nulis nie), andai aku bisa menggambar, akan langsung aku gambar deh, kayak komik gt T-T" tp ya sudahlah... check it out!!!
AKU BUKAN KUCING
![]() |
| image by https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/a2/62/5d/a2625df6d1b8ae60a01ab5c20c029ab9.jpg |
Pukul 4 sore tepat, Laurencia seorang berjalan pulang dengan muka masam sambil mendekapkan tangannya ke dada. Laurencia menyadari bahwa dia sedang diikuti oleh seekor kucing jantan hitam legam yang lusuh. Dia berfikir, begitu banyak pengguna jalan di trotoar ini, tapi mengapa kucing itu hanya mengikuti dia saja sejak dari pintu gerbang sekolah? Ya, Laurencia tidaklah seperti gadis remaja 18 tahun yang menganggap kucing adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling imut, lucu dan menggemaskan. Laurencia sangat membenci kucing. Bukan karena takut atau pernah mengalami traumatic experience, dia tidak suka kucing karena menurutnya wajah kucing adalah wajah binatang yang paling menyebalkan, betapapun lucu, imut dan menggemaskannya kucing itu. Dia juga tak ingin tertular virus berbahaya seperti Toxoplasma. Laurencia merasa kucing adalah hewan jorok dan menjijikkan yang bisa menularkan virus tersebut.
Laurencia adalah gadis yang tidak segan-segan menendang, memukul, atau melemparkan kucing dari ketinggian. Sebenarnya, Laurencia seorang gadis yang ceria, baik dan penyayang. Nanum sifat itu lenyap seketika saat dia berhadapan dengan "kucing". Seakan memiliki kepribadian ganda, Laurencia menjadi seseorang yang sangat tidak bersahabat terhadap kucing. Apa lagi saat ini di belakangnya, dia sedang diikuti oleh seekor kucing hitam yang masih mengikutinya hingga dia tiba depan tangga jembatan penyebrangan. Laurencia menarik nafas dalam-dalam, berbalik ke arah kucing itu.
"Baiklah kalau itu maumu," katanya dengan nada jengkel. Laurencia perlahan-lahan mendekati kucing itu dan menggendongnya menaiki jembatan penyeberangan yang pada saat itu tak banyak orang berlalu-lalang. Kucing itu menurut saja tanpa perlawanan.
Sesampainya di atas, Laurencia sedikit melongok ke bawah. Jalanan cukup ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Laurencia perlahan menjulurkan tangannya melewati pagar pembatas sembari menggendong kucing hitam itu. Laurencia menatap wajah kucing itu. Memperhatikannya secara seksama sejenak. Hitam legam, lusuh, sedikit berbau sampah, dengan mata biru safir yang cukup indah menurutnya. Lalu seketika muncul niat Laurencia untuk menjatuhkan kucing itu dari atas jembatan.
"Aku rasa nyalimu cukup besar untuk mengikutiku. Kau akan tahu akibatnya jika kau berani mengikutiku lagi, Kucing Bodoh!!!" Ancam Laurencia.
"Kalau kau memang berani lakukan saja, Gadis Tolol!!!" kucing hitam itu tiba-tiba berbicara. Laurencia sangat terkejut hingga tanpa sengaja dia benar-benar menjatuhkan kucing itu dari atas jembatan penyeberangan. Dia melangkah mundur lalu terduduk lemas.
Laurencia terdiam dan tercengang beberapa saat. Dia segera berdiri dan melongok ke bawah untuk memeriksa keadaan kucing itu. "Apa kucing itu mati terlindas?" tanyanya pada diri sendiri. Laurencia matanya membelalak, bibirnya menganga, jantungnya berdegup kencang, wajahnya sedikit pucat, keringat dingin tiba-tiba menetes dari dahinya. Kucing itu hilang. Tak ada tanda-tanda kucing terlindas atau bercak darah sekalipun. Jalanan terlihat bersih tanpa noda atau pengendara yang tiba-tiba menghentikan kendaraannya dan membuat sedikit kekacauan karena telah melindas seekor kucing.
"Mustahil" katanya lirih. Laurencia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia melihat kucing itu sudah berada di trotoar. Laurencia ketakutan. Dia berlari kencang, menjauh.
Bersambung....
Ditulis oleh: Mia Insani
