Sesampainya di depan pintu rumah, Laurencia hanya duduk diam. Matanya berkaca-kaca. Hingga dia tidak menyadari jika ada orang lain di belakangnya.
"Ehem..." suara berdehem membuyarkan lamunannya. Kedua telinga mungilnya bergoyang. Laurencia berbalik.
![]() |
| google image |
"Hai kucing kecil. Untuk apa kau kembali?" sapa seseorang yang terlihat tak asing sedang berdiri di hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Laurencia sambil tersenyum lebar. Laurencia membelalakkan matanya, jantungnya serasa melompat, mulutnya menganga lebar. Laurencia bertemu dengan Laurencia!
"Bagaimana bisa kau... aku... KEMBALIKAN TUBUHKU!!!" bentak Laurencia. Kejadian ini sangat mengguncang dirinya. Nafasnya tersengal.
"Apa!? Apa kau tidak salah bicara? Atau aku yang salah dengar? balasnya sembari mengorek telinga kanan dengan jentiknya lalu meniup serpihan kotoran yang menempel.
"Siapa kau sebenarnya?" Laurencia membentak.
"Aku? Aku Laurencia," balasnya santai. Jari telunjuknya menunjuk ke dada.
"Tidak! Laurencia adalah aku, bukan kau," tukasnya lantang.
"Itu tidak benar, tapi bukankah keadaan kita berbalik sekarang?" katanya sambil tersenyum sinis.
"APA!?" suara Laurencia meninggi.
"Sebenarnya namaku Lorenzo. Hihihihi...." Lorenzo terkikik geli. "Ah! bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" kata Lorenzo sambil menjentikkan tangan.
"Aku akan mengatakannya sekali, jadi perhatikan, dengarkan dan ingat baik-baik. Jika kau ingin tubuhmu kembali kau harus mengikuti sekolah perkucingan yang terletak di gorong-gorong tepat di di bawah jembatanpenyeberangan di mana kau menjatuhkanku seminggu yang lalu dan menjadi kucing peliharaanku. Itu karena kau harus melapor padaku apa saja yang telah kau pelajari. Kelas dimulai setiap jam 7 pagi hingga jam 4 sore setiap hari. Masa pelatihan adalah 30 hari, Jika kau bisa menjadi kucing dengan lulusan terbaik akau berjanji akan mengembalikanmu menjadi manusia," Lorenzo menjelaskan panjang lebar.
"Apa!? Ini tidak masuk ak..." Laurencia tiba-tiba menerima tendangan yang dilakukan Lorenzo dari samping kiri perutnya hingga terpelanting sejauh 5 meter. Laurencia terjatuh tepat di bawah ban mobil ibunya. Sedetik kemudian Agatha membuka pintu.
"Aku mendengar seseorang berbicara, aku kira ada tamu. Apa kau berbicara dengan seseorang?" Tanya Agatha sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Tidak, aku hanya menyapa teman sekolahku," balas Lorenzo.
"Baikla kalau begitu,"
Agatha dan Lurencia masuk ke dalam rumah bersamaan. Laurencia hanya bisa melihatpemandangan tragis itu. Tiba-tiba Lorenzo membuka sedikit pintu rumah. Kepalanya menyembul ke luar.
"Aku anggap kau setuju dengan perjanjian yang kubuat, bye..." katanya singkat, lalu membanting pintu. Terdengar suara "klik". Terkunci.
"AAAAAAAAAAAAAARGH. SIAL!!!" umpatnya.
Bersambung....
Ditulis oleh: Mia Insani
