Friday, October 23, 2015

AKU BUKAN KUCING (Bagian 2)

AKU BUKAN KUCING (Bagian 2)


image by https://dorindaduclos.files.wordpress.com/2014/10/black-cat-closeup_opt.jpeg

Sesampainya Laurencia di depan pintu kamarnya yang bercat putih dengan hiasan yang terbuat dari kain flanel warna-warni bertuliskan L-A-U-R-E-N-C-I-A, di lantai dua rumahnya, tiba-tiba dia merasa pusing, bedannya terasa panas, tulang-tulangnya serasa melelh hingga dia tak sanggup berdiri. Selang beberapa menit, Laurencia merasa cukup baikan dan berusaha mengangkat tubuhnya untuk berdiri, lalu terdengar suara langkah kaki mendekat.

"ASTAGA!!! Kenapa bisa ada kucing di depan kamar? Sebaiknya segera kusingkirkan sebelum Laurencia datang. Bisa-bisa dia menyiksa kucing ini untuk yang kesekian kali!" celoteh Agatha, Ibu Laurencia yang terheran-heran. Mendengar ibunya berkata begitu Laurencia menoleh ke kanan dan ke kiri. Berjaga-jaga jika kucing hitam itu kembali mengikutinya lagi. Tapi tak dilihatanya seekor kucingpun di sana. Laurencia merasa ada yang aneh, kenapa dia hanya melihat kaki ibunya? lalu Laurencia mendongak, kenapa ibunya terlihat sangat tinggi sekali? Lalu tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terangkat tinggi dan seperti ada sesuatu yang menyakiti tengkuknya. Laurencia merasakan seperti ada sesuatu yang menjepit tengkuknya.

Laurencia melihat ke sekeliling dengan sudut pandang yang berbeda sambil sedikit meronta-ronta. Semua barang-baran di rumahnya terlihat lebih besar dari biasanya. Tubuhnya melayang. Sesampainya di halaman depan rumah yang dipenuhi dengan rumput hijau nan segar, Agatha menurunkan Laurencia. Laurencia membalikkan tubuhnya dan mendongak. Menatap raut wajah lembut ibunya yang sedang berjongkok di hadapannya. Membelai kepalanya.

"Ibu apa yang terjadi?" Kenapa kau membawaku ke sini?" protes Laurencia. "Aku merasa ada hal yang aneh di sini, Bu!" tambahnya. Laurencia belum menyadari keadaannya. Agatha tersenyum kecil melihat kucing hitam yang sedang mengeong padanya.

"Sebaiknya kau jangan datang kemari lagi kucing manis," Agatha berkata lembut, mengelus punggung Laurencia, segera masuk dan mengunci pintu.

"APA!!!" Apa maksud Ibu dengan 'kucing manis'? Aku Laurencia, Bu. Aku anak Ibu." Laurencia memangil-manggil ibunya. Laurencia berusaha membuka pintu depan rumah, mengetuknya, mencakarnya.

Laurencia terdiam sejenak. Seketika jantungnya berdegup sangat kencang, dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang. Dia merasa ada yang salah pada dirinya saat ini. Laurencia tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Tangannya bukanlah tangan manusia. Laurencia menoleh ke bawah. Kaki depan kucing hitam yang dilihatnya. "Tidak mungkin," gumamnya. 

Laurencia berlari menuju depan mobil sedan putih milik ibunya yang terparkir tepat di depan rumahnya. Mobil itu terasa sangat tinggi baginya. Lalu dia mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, berlari sekencang-kencangnya dan "Hap" dia berhasil melompat. Dilihatnya bayangan yang terpantul di kaca depan mobil ibunya. Dilihatnya lekat-lekat. Terpantul sosok seekor kucing hitam legam dengan mata berwarna kuning keemasan. Laurencia meraba wajahnya dengan kaki kucing kanannya. Dia merasakan wajahnya berbulu, berkumis dan moncongnya sejajar dengan hidungnya.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK"

Bersambung....

Ditulis oleh Mia Insani