Saturday, October 24, 2015

AKU BUKAN KUCING (Bagian 3)

AKU BUKAN KUCING (Bagian 3)


Laurencia merasa sangat yakin bahwa apa yang dia alami saat ini gara-gara kucing hitam yang tak sengaja dia lemparkan dari jembatan penyeberangan hingga dia dikutuk menjadi kucing seperti ini. Dia merasa kucing hitam itu bertanggung jawab penuh atas kesialan yang menimpanya. Dia ingin kucing hitam mengembalikannya menjadi manusia kembali. Laurencia berusaha kucing hitam itu selama seminggu penuh. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada ibunya jika dia tidak pulang selama seminggu penuh. Mungkin ibunya sudah melaporkan kasus anak hilang ke kantor polisi atau mungkin ibunya senang bahwa dia sudah tidak perlu bersusah payah membesarkan seorang anak perempuan yang merepotkan atau... Laurencia tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selanjutnya semenjak dia pergi meninggalkan rumah hanya untuk mencari kucing hitam yang mengutuknya ke seluruh penjuru kota.  

Selama seminggu masa pencariannya, Laurencia banyak bertemu dengan beberapa kucing liar yang berusaha menyapanya karena keindahan matanya, kebersihan bulunya dan cara berjalannya yang anggun. Seperti yang dilakukan oleh seekor kucing jantan berwarna coklat-hitam yang berusaha menyapanya dari atas tong sampah.

"Hai, sayang!" Sapanya namun Laurencia tidak menggubrisnya sama sekali. Sikap Laurencia yang acuh membuat kucing coklat-hitam tersebut semakin penasaran dan segera menghadang Laurencia dari depan.

"Apa kau kucing baru di daerah sini? Kau terlihat cantik dan bersih. Apa kau di buang oleh majikanmu? Atau kau kabur dari rumah majikanmu?" Tanyanya.

"Apa kau buta? Aku bukan kucing seperti yang kau kira. Aku manusia! Jadi sekarang menyingkirlah dari hadapanku!" Tukasnya sinis.

Beberapa kucing menyapa dan bertanya pada Laurencia, namun selalu dijawab dengan jawaban dan perlakuan yang tidak menyenangkan. Ada juga beberapa kucing jantan yang tertarik padanya menawarkan makanan sisa yang mereka dapatkan dari tong sampah, namun Laurencia selalu menolak dan menyatakan dengan sinis bahwa dia bukanlah manusia rendahan yang mau memakan makanan sisa yang sudah tak layak.

Selama Laurencia menjadi kucing, mau tak mau dia juka makan dan minum juga dari makanan sisa yang dibuang di tong sampah, hanya saja dia selalu memilih makanan sisa yang baru dibuang, yang tidak terlalu kotor dan tidak berbau busuk. Menurut kucing lar lainnya Laurencia adalah kucing betina yang munafik. Tersebar gosip jika ada kucing betina gila, sombong, munafik, dan suka mengaku sebagai manusia. Banyak kucing yang pada akhirnya mem-bully dan mengejeknya. Tak jarang Laurencia berkelahi, terutama dengan para kucng betina yang merasa terganggu akan kehadirannya. Laurencia tak tahan. Begitu berat hidup di jalanan yang tak satu pun berpihak padanya.

Laurencia merasa sedih dan sangat merindukan ibunya. Air matanya menetes. Dia membayangkan betapa sedih ibunya ketika anaknya tak kunjung pulang selama seminggu ini. Dia pun memutuskan untuk pulang sebentar sekedar untuk melihat keadaan ibunya.

Bersambung.....

Ditulis oleh: Mia Insani